Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kabar masuknya minyak mentah asal Rusia ke Indonesia pada akhir 2025 hingga awal 2026 mencuat dan menjadi sorotan publik. Menanggapi isu tersebut, PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa seluruh kegiatan impor minyak dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku demi menjaga pasokan energi nasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan subholding terkait untuk mengonfirmasi informasi yang beredar.
“Sebagai penjelasan awal, Pertamina selalu mengikuti peraturan dan ketentuan yang ada dalam melaksanakan operasinya, termasuk dalam mekanisme impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujar Baron kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Sebelumnya, Kontan mengutip laporan Reuters yang merujuk pada data pelacakan kapal dari Kpler dan Vortexa. Data tersebut menunjukkan Indonesia menerima dua kargo minyak mentah Rusia jenis Sakhalin Blend pada Desember 2025 dan Januari 2026.
Baca Juga: Penjualan Domestik Lesu, Sektor Otomotif Terselamatkan Berkat Ini
Masing-masing kargo berukuran sekitar 700.000 barel dan dilaporkan dibongkar di Pelabuhan Balikpapan serta Cilacap. Analis Vortexa, Emma Li, menilai volume tersebut tergolong tidak lazim, mengingat Indonesia selama ini lebih banyak mengandalkan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Masuknya kargo tersebut terjadi di tengah tekanan harga minyak Rusia, seiring potensi penurunan permintaan dari India yang selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia.
Berdasarkan data pelacakan kapal, GT Honor tercatat membongkar sekitar 700.000 barel minyak di Balikpapan pada 25 Desember 2025 setelah melakukan ship-to-ship (STS) dengan kapal Galaxy di sekitar perairan Hong Kong. Sementara itu, kapal Integrity Racer dilaporkan membongkar kargo serupa di Cilacap pada Januari 2026 usai STS dengan kapal Voyager, juga di perairan Hong Kong.
Galaxy dan Voyager diketahui masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa serta kerap mengangkut minyak dari proyek Sakhalin-2 Rusia.
Di sisi lain, Pertamina membantah telah mengimpor minyak asal Rusia. Juru bicara Pertamina mengonfirmasi bahwa kapal GT Honor memang membongkar muatan di Balikpapan, namun menegaskan minyak tersebut tidak berasal dari Sakhalin tanpa merinci negara asalnya.
Untuk kapal Integrity Racer, Pertamina juga tidak memberikan penjelasan detail dan kembali menegaskan tidak terdapat impor minyak Rusia dalam kegiatan perusahaan.
Tonton: Prabowo Restui Suntikan PMN Rp 11,46 Triliun untuk Transportasi dan Perumahan
Indonesia sendiri tidak termasuk dalam negara yang menerapkan sanksi Barat terhadap Rusia, sehingga secara kebijakan tidak terdapat larangan formal. Namun demikian, perdagangan minyak dari negara yang dikenai sanksi kerap melibatkan skema ship-to-ship dan perubahan dokumen, sehingga memicu sorotan terkait transparansi dan tata kelola impor migas.
Isu ini menjadi perhatian publik karena berkaitan langsung dengan ketahanan energi nasional, akuntabilitas data impor minyak, serta posisi geopolitik Indonesia di tengah dinamika global.
Selanjutnya: Sinar Mas Agro (SMAR) Terbitkan Surat Utang Rp 1,2 Triliun, Ini Rekomendasi Sahamnya
Menarik Dibaca: Promo Grand Opening Bakmi GM TMII hingga 14 Maret, Makan Enak Dapat Tas Gratis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













