Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Indonesia merupakan pemain kunci di pasar batubara global. Sepanjang 2025, Indonesia menyuplai sekitar 50% dari total ekspor batubara termal dunia dan menjadi pemasok utama bagi China, India, Vietnam, hingga Filipina.
Namun, melemahnya harga batubara global dalam periode panjang mendorong pemerintah mengusulkan pengendalian produksi dan penerapan kuota guna menopang harga serta meningkatkan penerimaan negara.
Di sisi lain, kebijakan tersebut memicu resistensi dari kalangan penambang yang khawatir pemangkasan produksi berlebihan dapat memicu pemutusan hubungan kerja dan penutupan operasional tambang.
Data Kpler menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat 16 negara yang mengimpor setidaknya 1 juta ton batubara termal dari Indonesia. Tingkat ketergantungan tertinggi terdapat di Filipina, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia.
Filipina tercatat mengandalkan sekitar 98% impor batubaranya dari Indonesia, dengan batubara menyumbang sekitar 57% produksi listrik nasional. Bangladesh mengamankan lebih dari 90% impor batubaranya dari Indonesia dan mencatatkan porsi batubara tertinggi dalam bauran listrik sepanjang sejarahnya.
Tonton: Vortexa Sebut Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Bantah!
Sementara itu, Malaysia dan Vietnam masing-masing memperoleh lebih dari separuh kebutuhan impor batubara dari Indonesia, dengan ketergantungan batubara mencapai 40% atau lebih terhadap pasokan listrik nasional.
Meski relatif lebih mandiri, dampak jangka panjang juga berpotensi menjalar ke China dan India, terutama bagi pembangkit batubara besar yang berlokasi dekat pelabuhan impor dan selama ini mengandalkan pasokan internasional.
Jika harga batubara global terus reli, pembangkit tersebut dapat beralih ke pasokan domestik, namun dengan konsekuensi peningkatan biaya logistik akibat pengangkutan darat yang lebih mahal.
Selanjutnya: Kejutan Lebaran 2026: Tiket Pesawat Ekonomi PPN Ditanggung 100%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













