Ekonomi Dunia Tengah Dilanda Shrinkflation, Sudah Tahu Apa Itu?

Sabtu, 11 Juni 2022 | 05:36 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Ekonomi Dunia Tengah Dilanda Shrinkflation, Sudah Tahu Apa Itu?


KONTAN.CO.ID - Di tengah perlambatan ekonomi global, kini muncul shrinkflation di mana-mana. 

Apa itu shrinkflation? Shrinkflation merupakan salah satu jenis inflasi di mana perusahaan mengecilkan produk dan menjualnya dengan harga yang sama. 

Fenomena shrinkflation ini sudah terlihat di mana-mana. Dari kertas toilet, yogurt, kopi, hingga keripik jagung, produsen diam-diam mengecilkan ukuran paket tanpa menurunkan harga. Inilah yang dijuluki "penyusutan".

Melansir AP, di Amerika, sekotak kecil tisu sekarang berisi 60 tisu. Bandingkan dengan beberapa bulan yang lalu yang jumlahnya 65. Yoghurt Chobani Flips telah menyusut dari 5,3 ons menjadi 4,5 ons. 

Di Inggris, Nestle mengecilkan kaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram menjadi 90 gram. Di India, sebatang sabun cuci piring Vim telah menyusut dari 155 gram menjadi 135 gram.

Menurut para ahli, penyusutan produk bukanlah hal baru. Akan tetapi, hal itu berkembang biak di saat inflasi tinggi karena perusahaan bergulat dengan kenaikan biaya bahan, pengemasan, tenaga kerja, dan transportasi. 

Baca Juga: Bank Sentral Dunia Kerek Suku Bunga, Harga Bitcoin Bisa Terus Menderita

Berdasarkan data S&P Global, tingkat inflasi harga konsumen global naik sekitar 7% pada Mei, kecepatan yang kemungkinan akan berlanjut hingga September.

"Hal itu datang dalam gelombang. Kita kebetulan berada dalam gelombang pasang saat ini karena inflasi," kata Edgar Dworsky, advokat konsumen dan mantan asisten jaksa agung di Massachusetts yang telah mendokumentasikan penyusutan di situs web Consumer World-nya selama beberapa dekade.

Dworsky mulai memperhatikan kotak-kotak yang lebih kecil di lorong sereal musim gugur yang lalu, dan penyusutan terus terjadi. Dia dapat menyebutkan lusinan contoh, dari kertas toilet Cottonelle Ultra Clean Care, yang telah menyusut dari 340 lembar per gulungan menjadi 312, hingga kopi Folgers, yang mengurangi ukuran wadah 51 onsnya menjadi 43,5 ons tetapi masih mengatakan akan menghasilkan hingga 400 cangkir.  (Folgers mengatakan itu menggunakan teknologi baru yang menghasilkan biji yang lebih ringan.)

Dworsky mengatakan penyusutan merupakan hal yang menarik bagi produsen karena mereka tahu pelanggan tidak akan merasa harga barang naik dan tidak akan melacak berat bersih atau detail kecil, seperti jumlah lembar pada gulungan kertas toilet. 

Baca Juga: Dampak Lockdown di China, Dua Pemasok Toyota Meminta Karyawan Libur Tidak Dibayar

Perusahaan juga dapat menggunakan trik untuk mengalihkan perhatian dari perampingan, seperti menandai paket yang lebih kecil dengan label baru yang cerah yang menarik perhatian pembeli.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru