kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ekonom BSI: Proyeksi Inflasi pada September 2023 Sebesar 2,78% YoY


Senin, 02 Oktober 2023 / 07:20 WIB
Ekonom BSI: Proyeksi Inflasi pada September 2023 Sebesar 2,78% YoY

Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Terdapat kemungkinan penurunan tingkat inflasi pada September 2023.

Dari perhitungan Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo, inflasi pada September 2023 diyakini sebesar 2,78% YoY.

Angka ini menurun bila dibandingkan dengan capaian inflasi Agustus 2023 yang sebesar 3,27% YoY.

Pun lebih rendah bila dibandingkan dengan capaian inflasi September 2022 yang mencapai 5,95% YoY.

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri Perkirakan inflasi September 2023 Sebesar 0,17% MoM

"Capaian inflasi September 2023 karena ada faktor basis tinggi dari kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun lalu," terang Banjaran kepada Kontan.co.id, Minggu (1/10).

Namun, Banjaran mewanti-wanti soal kenaikan harga pangan. Menurutnya, harga pangan dari BI menunjukkan adanya kenaikan harga beras yang cukup signifikan sepanjang bulan lalu.

Ini sebab fenomena kekeringan atau El Nino. Bahkan, fenomena El Nino berpotensi berlanjut hingga kuartal I-2024.

"Sehingga tekanan dari harga bergejolak kemungkinan masih besar dan berlangsung hingga tahun depan," terang Banjaran.

Di sisi lain, harga minyak mentah juga masih melanjutkan tren kenaikan sejak Juli 2023. Ini membuat pemerintah kembali menyesuaikan hagra bahan bakar minyak non subsidi untuk mengimbangi kenaikan harga minyak mentah.

Baca Juga: Indeks Harga Konsumen (IHK) Berpotensi Kembali Mengalami Inflasi di September 2023

Nah, ini berpotensi mengerek inflasi dari sisi inflasi harga bergejolak pada September 2023.

Namun, Banjaran yakin dampaknya masih relatif kecil, karena sensitivitas inflasi Indonesia terhadap kenaikan harga BBM non subsidi lebih kecil bila dibadningkan dengan non subsidi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×