Global

Cemas, Joe Biden peringatkan China akan menyantap makan siang Amerika

Sabtu, 13 Februari 2021 | 04:54 WIB Sumber: Reuters
Cemas, Joe Biden peringatkan China akan menyantap makan siang Amerika

ILUSTRASI. Joe Biden menyebut China sebagai pesaing paling serius bagi Amerika dan berjanji untuk "mengungguli" Beijing. REUTERS/Tom Brenner

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/BEIJING. Presiden AS Joe Biden dan mitranya dari China Xi Jinping melakukan panggilan telepon pertama mereka sebagai pemimpin. Namun keduanya tampak berselisih di sebagian besar masalah. Bahkan Xi Jinping memperingatkan bahwa konfrontasi akan menjadi "bencana" bagi kedua negara.

Melansir Reuters, saat Xi Jinping menyerukan kerja sama yang saling menguntungkan atawa "win-win", Joe Biden menyebut China sebagai pesaing paling serius bagi Amerika dan berjanji untuk "mengungguli" Beijing.

Pada hari Kamis (11/2/2021), Joe Biden mengatakan kepada kelompok bipartisan senator AS pada pertemuan tentang perlunya meningkatkan infrastruktur AS, di mana Amerika Serikat harus meningkatkan permainannya dalam menghadapi tantangan China.

Joe Biden mengatakan dia telah berbicara dengan Xi Jinping selama dua jam pada Rabu malam dan memperingatkan para senator: "Jika kita tidak bergerak, mereka akan memakan makan siang kita."

Baca Juga: Biden: Jika diperlukan, berperang dan memenangkan perang untuk jaga keamanan Amerika

Joe Biden menambahkan, “Mereka menginvestasikan miliaran dolar untuk menangani berbagai macam masalah yang berkaitan dengan transportasi, lingkungan, dan berbagai hal lainnya. Kita harus maju.”

Reuters memberitakan, berdasarkan pernyataan Gedung Putih, Joe Biden menekankan kepada Xi Jinping bahwa AS memprioritaskan untuk melestarikan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, wilayah di mana Amerika Serikat dan China merupakan saingan strategis utama.

Baca Juga: Pembicaraan pertama Joe Biden sebagai Presiden AS dengan Xi Jinping, begini isinya

Dia juga menyuarakan keprihatinan "mendasar" tentang praktik perdagangan koersif dan tidak adil di Beijing, serta tentang masalah hak asasi manusia, termasuk tindakan keras China di Hong Kong dan perlakuan terhadap Muslim di Xinjiang, dan tindakannya yang semakin tegas di Asia, termasuk terhadap Taiwan.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Terbaru