kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Bitcoin ditinggalkan, meski harus rugi ratusan juta rupiah


Sabtu, 28 November 2020 / 08:06 WIB
Bitcoin ditinggalkan, meski harus rugi ratusan juta rupiah
ILUSTRASI. Bitcoin ditinggalkan, meski harus rugi ratusan juta rupiah. REUTERS/Edgar Su

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Adi Wikanto

Mereka mengutip permintaan untuk aset berisiko di tengah program stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melawan Covid-19, dan ekspektasi bitcoin akan memenangkan penerimaan yang lebih luas sebagai metode pembayaran.

Mereka juga menunjukkan peningkatan dalam struktur pasar yang menarik investor yang lebih besar, serta penelusuran Google yang jauh lebih sedikit untuk istilah "bitcoin", yang biasanya meningkat seiring dengan keterlibatan amatir.

Baca Juga: AS menyita bitcoin senilai US$ 1 miliar, terbesar dalam sejarah

Namun, beberapa ahli juga mengatakan gelombang baru partisipasi ritel mungkin akan datang, karena investor Main Street biasanya meningkatkan partisipasi pada puncak gelembung.

Misalnya, Livi Morris, seorang musisi yang berbasis di London, melihat portofolio cryptocurrency-nya kehilangan 70-80% tidak berselang lama setelah ia masuk pada Januari 2018. Ia memutuskan menjualnya pada Juni 2020.

Morris menyatakan penyesalan karena menjual terlalu dini, tetapi telah mulai membeli crypto lagi dalam beberapa minggu terakhir setelah membaca bahwa perusahaan yang lebih besar telah memasuki pasar. Dia berfokus pada koin virtual yang lebih kecil, berharap kali ini akan berbeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

×