Bisnis pembiayaan di luar Jawa dinilai masih potensial

Kamis, 22 Juli 2021 | 05:45 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Bisnis pembiayaan di luar Jawa dinilai masih potensial

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berlangsungnya PPKM Darurat yang mayoritas dilaksanakan di Jawa dan Bali membuka peluang bagi multifinance untuk meningkatkan portofolio pembiayaan di luar Jawa. Hanya saja, hal tersebut belum terlalu signifikan untuk mendongkrak pembiayaan.

Kalau melihat data OJK di bulan Mei, piutang pembiayaan di luar Jawa memiliki kontribusi sebesar 36,90% atau senilai Rp 143,26 triliun. Kontribusi tersebut naik tipis dari posisi di periode yang sama tahun sebelumnya dengan porsi sebesar 35,23% dengan nilai yang lebih tinggi yaitu Rp 156,73 triliun

Salah satu multifinance yang mengaku memanfaatkan peluang tersebut ialah PT Mandiri Tunas Finance. Perusahaan yang sampai paruh pertama tahun ini telah memberikan pembiayaan sebesar Rp 9,3 triliun ini menyebutkan bahwa memperluas portofolio di luar jawa merupakan salah satu strategi ketika PPKM darurat diberlakukan.

Baca Juga: MTF targetkan pembiayaan hingga Rp 30 miliar dalam gelaran MTF Fair

“Setelah PPKM Darurat waktu itu diumumkan, kami melakukan strategi untuk memperbesar volume kami di luar Jawa,” ujar Direktur MTF William Francis, Rabu (21/7).

William juga menyebut bahwa peningkatan juga sudah dirasakan untuk wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sayangnya, ia enggan menyebutkan berapa kontribusi pembiayaan perusahaan di luar Jawa saat ini.

Bagi MTF, strategi tersebut dilakukan untuk melakukan diversifikasi yang tidak hanya dalam bentuk diversifikasi produk namun juga diversifikasi wilayah. Harapannya, dengan langkah tersebut MTF bisa mencapai targetnya di akhir tahun yang senilai Rp 20 triliun.

“Untuk target porsi di luar Jawa saat ini sih 35%-40% sedangkan untuk di wilayah Jawa sebesar 60%-65%,” tambah William.

Ada juga PT Mandiri Utama Multifinance (MUF) yang masih melihat potensi peningkatan portofolio di luar Jawa. Hanya saja, MUF belum melihat ada perubahan pasar yang signifikan untuk di wilayah luar Jawa.

Baca Juga: Pefindo terima mandat Rp 59,1 triliun penerbitan surat utang yang belum dilisting

“Luar Jawa dan Jawa kontribusi hampir imbang, sama-sama 50%,” ujar Direktur Utama MUF Stanley Setia Atmadja kepada KONTAN, Rabu (21/7).

Menurut Stanley, pihaknya akan terus mengoptimalkan potensi pasar di luar Jawa dengan memperbanyak kerjasama dengan dealer.

Memiliki pendapat yang berbeda, Direktur Utama BCA Finance Roni Haslim mengungkapkan bahwa saat ini belum memungkinkan untuk menambah portofolio di luar Jawa. Hal ini mengingat kondisi pembiayaan dari BCA Finance yang secara keseluruhan masih sama-sama turun.

“Saat ini semua turun sekitar 70% dengan booking per Juni mencapai Rp 12,1 triliun,” ujar Roni kepada KONTAN, Rabu (21/7).

Roni juga mengaku bahwa portofolio pembiayaan BCA Finance di luar Jawa hanya mencapai 30% dengan mayoritas berada di Sumatera. Oleh karena itu, ia berpendapat jika portofolio di luar Jawa meningkat pun belum tentu bisa membantu mendorong peningkatan secara keseluruhan.

Alih-alih menambah portofolio di luar Jawa, Roni bilang bahwa pihaknya ada kemungkinan melakukan revisi target pembiayaan akhir tahun. Sekadar informasi, awalnya BCA Finance memiliki target akhir tahun sebesar Rp 30 triliun.

“Kemungkinan besar kami akan revisi turun,tapi angkanya masih kami hitung, harus melihat seberapa jauh pengetatan ini berlangsung,” pungkas Roni.

Selanjutnya: OJK: Kenaikan NPF lebih banyak dikontribusi oleh penurunan permintaan pembiayaan

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Tendi Mahadi
Terbaru