kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Belum Terasa, Tapi Berbahaya: Ini Dampak Konflik AS–Venezuela Menurut Kadin


Rabu, 07 Januari 2026 / 05:39 WIB
Belum Terasa, Tapi Berbahaya: Ini Dampak Konflik AS–Venezuela Menurut Kadin
ILUSTRASI. Kadin Indonesia menilai industri nasional masih wait and see terhadap konflik AS–Venezuela.(DOK/Kadin)

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pelaku industri di Indonesia saat ini memasang sikap wait and see dalam mencermati dinamika geopolitik global pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Hingga kini, dampak konflik tersebut dinilai belum terasa secara langsung terhadap aktivitas perdagangan dan industri nasional.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengimbau pelaku usaha untuk tetap mengantisipasi implikasi lanjutan apabila eskalasi konflik AS dengan Venezuela berdampak terhadap rantai pasok global dan harga komoditas strategis.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia, Bobby Gafur Umar, mengatakan bahwa sejauh ini ketegangan antara AS dan Venezuela belum memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Namun, perkembangan situasi ke depan sangat bergantung pada respons dunia internasional terhadap konflik tersebut.

“Sejauh ini tidak berdampak langsung ke perdagangan dan industri Indonesia. Tetapi ke depan sangat tergantung pada bagaimana reaksi dunia terhadap konflik AS dengan Venezuela,” ujar Bobby kepada Kontan.co.id, Senin (5/1/2026).

Menurut Bobby, sektor yang paling rentan terdampak adalah komoditas energi, khususnya minyak bumi. Ia menilai potensi gangguan pasokan dari Venezuela dapat memicu fluktuasi harga minyak dunia, terutama jika berdampak pada pasokan ke negara-negara konsumen utama seperti China.

Baca Juga: Impor BBM SPBU Swasta Resmi Jalan, Kuota 2026 Berpeluang Naik 10%

“Jika pasar energi berfluktuasi dengan kenaikan harga minyak akibat suplai dari Venezuela terdampak, khususnya ke China, maka hal itu bisa memicu risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menegaskan bahwa pelaku usaha perlu mencermati secara serius setiap eskalasi geopolitik yang melibatkan negara produsen energi.

“Bukan semata pada peristiwa politiknya, tetapi implikasi lanjutan terhadap rantai pasok, harga komoditas, dan sentimen pasar internasional,” kata Erwin.

Erwin mengidentifikasi setidaknya tiga dampak utama yang berpotensi muncul dari eskalasi konflik AS versus Venezuela. Pertama, meningkatnya volatilitas harga komoditas energi dan pangan akibat spekulasi pasar dan ketidakpastian geopolitik.

Kedua, potensi gangguan pada rantai pasok dan pembiayaan perdagangan. Konflik geopolitik kerap berdampak pada sistem pembayaran internasional, asuransi pengiriman, hingga akses pembiayaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya transaksi perdagangan lintas negara.

Ketiga, perubahan arah kebijakan dagang dan investasi global. “Ketegangan geopolitik biasanya diikuti pengetatan kebijakan, sanksi ekonomi, atau realokasi investasi ke negara yang dianggap lebih stabil,” terang Erwin.

Meski demikian, Kadin Indonesia memandang dinamika geopolitik saat ini tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga peluang strategis bagi Indonesia. Dari sisi risiko, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi industri dan memicu tekanan inflasi, sementara volatilitas nilai tukar dapat memengaruhi dunia usaha yang bergantung pada impor bahan baku.

Tonton: Cadangan Minyak Venezuela Terbesar di Dunia, Terancam Dikuasai AS?

Di sisi lain, Indonesia berpeluang menjadi alternatif tujuan investasi dan basis produksi di tengah upaya pelaku usaha global mencari negara yang stabil secara politik dan ekonomi. Komoditas unggulan Indonesia seperti energi, mineral, dan pangan juga berpotensi mempero

Kesimpulan

Pelaku industri nasional masih bersikap wait and see terhadap konflik AS–Venezuela karena dampaknya belum terasa langsung, namun Kadin menilai risiko lanjutan tetap perlu diantisipasi, terutama pada sektor energi, rantai pasok global, dan sentimen pasar internasional. Potensi gangguan suplai minyak dan volatilitas harga komoditas dapat meningkatkan biaya produksi serta tekanan inflasi, meski di saat yang sama membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik relokasi investasi dan memperkuat posisinya sebagai basis produksi yang relatif stabil di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Selanjutnya: Likuiditas Valas Masih Terjaga di Tengah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Menarik Dibaca: Kapan Tanggal Merah di Januari 2026? Ada Long Weekend di Pertengahan Bulan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×