Bankir yakin NPL tahun ini tetap terjaga walau ada risiko kredit meningkat

Kamis, 04 Maret 2021 | 10:00 WIB   Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Bankir yakin NPL tahun ini tetap terjaga walau ada risiko kredit meningkat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 membuat risiko kredit perbankan semakin tinggi. Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan keringanan bagi debitur yang terdampak Covid-19 lewat program restrukturisasi kredit. 

Namun tetap saja, di tengah kondisi yang serba tidak pasti tren peningkatan non performing loan (NPL) terus berlanjut. OJK mencatat pada akhir 2020 NPL perbankan ada di level 3,06%. Kendati masih rendah, posisi tersebut meningkat dari periode setahun sebelumnya yang ada di level 2,53%. 

Merujuk pada Statistik Perbankan Indonesia (SPI) per Desember 2020 beberapa sektor besar pun mengalami peningkatan. Misalnya, pada industri pengolahan atau manufaktur, NPL naik ke angka 4,57% di akhir 2020. Meningkat dari periode akhir 2019 yang masih terjaga di kisaran 3,77%.

Baca Juga: OJK cabut izin usaha BPR Sewu Bali

Kemudian, sektor seperti pertambangan dan penggalian juga masih punya NPL tinggi di level 7,26% meningkat drastis dari setahun sebelumnya 3,57%. Sedangkan NPL di sektor dengan jumlah kredit terbesar yakni perdagangan ada di level 4,43%. NPL di sektor perdagangan juga naik dari posisi tahun 2019 sebesar 3,45%. 

Meski begitu, sejumlah bank yang dihubungi Kontan.co.id mengatakan sampai saat ini sebenarnya NPL masih dapat terjaga stabil. Kendati dihantam peningkatan risiko akibat pandemi. 

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya pada Desember 2020 masih mencatatkan rasio NPL terjaga pada level 1,8%. Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim bilang, sektor perdagangan, restoran dan hotel punya NPL paling tinggi sebesar 3,8%. Sementara sektor manufaktur masih terjaga rendah di level 1,8% dan transportasi sebesar 0,9%. 

Dia pun menambahkan, perbankan termasuk BCA sudah mengantisipasi kenaikan risiko kredit. Salah satu bentuk upayanya antara lain lewat peningkatan biaya pencadangan. "BCA sudah membukukan biaya pencadangan sebesar Rp 11,6 triliun pada sepanjang tahun 2020," ungkapnya kepada Kontan.co.id, Rabu (3/3). 

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia temui CEO Dubai Islamic Bank untuk jalin kerja sama

Ke depan, BCA menilai tantangan NPL masih terus ada. Dus, pihaknya bakal secara konsisten berupaya menjaga NPL berada di level aman. 

Begitu juga dengan bank menengah seperti PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS) yang mengatakan tren peningkatan NPL masih bisa ditekan. Adapun, Direktur BWS Sadhana Priatmadja menjelaskan saat ini NPL paling tinggi ada di sektor konstruksi dan perdagangan besar. 

Editor: Tendi Mahadi
Terbaru