Bank Sentral AS Akan Mengerek Bunga Acuan, Bankir Kaji KenaikanSuku Bunga Kredit

Selasa, 14 Juni 2022 | 05:55 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Bank Sentral AS Akan Mengerek Bunga Acuan, Bankir Kaji KenaikanSuku Bunga Kredit


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merespons ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 75 basis poin (bps) dalam waktu dekat, bankir mulai mengkaji kenaikan suku bunga kredit. Maklum, kenaikan bunga bank sentral Amerika Serikat, akan diikuti kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI). 

Selanjutnya, perbankan akan menyesuaikan bunga simpanan sehingga mempengaruhi biaya dana atau cost of fund (cof). Dus, perbankan pun ikut mengerek bunga kredit dalam mengoptimalkan pendapatan. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan suku bunga perbankan masih turun kendati lebih terbatas. Ini didukung oleh suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan terjaganya likuiditas perbankan.  

Di pasar uang, suku bunga IndONIA pada Maret 2022 stabil sebesar 2,79% dibandingkan dengan Maret 2021. Di pasar dana, suku bunga deposito 1 bulan perbankan turun sebesar 91 bps sejak Maret 2021 menjadi 2,85% pada Maret 2022.  

Baca Juga: Penghapusan LIBOR Tidak Akan Membuat Ketidakstabilan Sektor Keuangan

Di pasar kredit, suku bunga kredit baru lebih rendah 17 bps (yoy) pada periode yang sama, sejalan dengan penurunan Suku bunga dasar kredit (SBDK) dan perbaikan persepsi risiko perbankan di tengah berlanjutnya pemulihan aktivitas ekonomi.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga mencermati dalam 15 bulan terakhir sejak Februari 2021 hingga Mei 2022, suku bunga deposito 1 dan 3 bulan terpantau masih turun meskipun penurunannya semakin melambat. 

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa bilang ini turut berkontribusi dalam penurunan biaya dana (cost of fund perbankan), sehingga mendukung penurunan suku bunga kredit.

“Perkembangan likuiditas yang tetap longgar memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk mengelola biaya dana atau suku bunga simpanan di level yang rendah,” ujarnya. 

Jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara, suku bunga kredit di Indonesia masih merupakan yang tertinggi. Hal ini mengindikasikan adanya ruang untuk perbaikan struktur perbankan di Indonesia agar dapat beroperasi dengan lebih efisien.

Melihat hal ini, Direktur Utama Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan pada prinsipnya, bunga kredit akan tergantung dari pergerakan biaya dana, biaya bunga, dan juga likuiditas. Ia melihat, sejauh ini likuiditas masih cukup memadai. 

Baca Juga: Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga, Simak Proyeksi Arah IHSG Sepekan Ini

“Tetapi kita lihat saja apakah ada kenaikan suku bunga acuan dari regulator yang bisa mempengaruhi biaya dana,” ujar Lani kepada Kontan.co.id pada Senin (13/6). 

Ia menyebut masih terlalu dini menimbang dampak bila bunga kredit naik terhadap permintaan kredit. Namun, Lani menilai kenaikan bunga kredit untuk segmen ritel tidak akan terlalu terdampak. Ia menyebut akan ada sedikit penyesuaian di segmen  korporasi. 

Direktur Bank BCA Vera Eve Lim menyatakan masih melakukan monitoring secara intens terkait kondisi saat ini. khususnya di tengah situasi PPKM dalam rangka menekan laju penularan pandemi Covid-19 menuju pemulihan ekonomi nasional.

“BCA telah melakukan penyesuaian suku bunga kredit yang diberikan kepada nasabah sejalan dengan pergerakan suku bunga acuan (BI 7 day reverse repo rate) serta mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi bisnis di tanah air,” paparnya. 

Ia menyatakan suku bunga dasar kredit BCA Per 30 September 2021 untuk kredit korporasi sebesar 7,95%, kredit ritel sebesar 8,20%, kredit pemilikan rumah (KPR) 7,20%, dan kredit konsumsi non KPR sebesar 5,96%. 

“Di sisi lain, BCA berharap pertumbuhan kredit akan tumbuh di kisaran 7%-8% pada tahun 2022, ditopang oleh likuiditas yang masih memadai dan harapan akan pemulihan ekonomi sehingga dapat mendorong permintaan kredit. BCA juga senantiasa berkomitmen untuk menyalurkan kredit secara prudent dan tetap mengkaji peluang serta mempertimbangkan prinsip kehati-hatian,” paparnya. 

Sedangkan Direktur Utama Bank Ina Perdana Daniel Budirahayu menyebut masih memantau inflasi yang menyebabkan pergerakan suku bunga di dalam negeri. Bila inflasi tidak terkendali, maka BI menaikan suku bunga acuan. 

“Maka kami akan melakukan nya secara bertahap, dan apabila itu terjadi selama ekonomi masih bergerak tumbuh, Menurut kami permohonan kredit akan tetap, apabila ada pun tidak berpengaruh banyak,” paparnya. 

Ia menambahkan, Bank Ina secara aktif menyesuaikan suku bunga pinjaman dengan bunga acuan BI. Juga melakukan penurunan suku bunga pinjaman hingga sekitar 2% sejak pandemi menyerang Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru