kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Ancaman Selat Hormuz: RI Wajib Cari Minyak Non-Timur Tengah


Selasa, 03 Maret 2026 / 02:30 WIB
Ancaman Selat Hormuz: RI Wajib Cari Minyak Non-Timur Tengah
ILUSTRASI. Indonesia sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk impor minyak dan LPG. (REUTERS/Dado Ruvic)

Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Tahun ini, subsidi untuk LPG dan BBM diperkirakan mencapai sekitar Rp106 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor minyak dan gas pada 2024 mencapai US$36,28 miliar.

Menurut Fabby, lonjakan harga global akibat konflik atau gangguan pasokan dapat langsung berdampak pada neraca perdagangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ketika harga global naik, biaya impor melonjak, APBN semakin terbebani untuk menjaga harga subsidi, dan ketahanan energi nasional tetap bergantung pada pasar global yang tidak bisa kita kendalikan,” tegasnya.

Tonton: IAEA Gelar Rapat Darurat: US & Israel Serang Iran, Apa Dampaknya bagi Keamanan Nuklir Dunia

Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Situasi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber pasokan energi sekaligus percepatan transisi energi domestik. Tanpa langkah strategis, ketergantungan pada impor energi dari kawasan rawan konflik akan terus menjadi risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia.

Diversifikasi impor, penguatan produksi dalam negeri, serta percepatan pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas energi dan fiskal dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×