kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.880   -14,00   -0,08%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Ancaman Selat Hormuz: RI Wajib Cari Minyak Non-Timur Tengah


Selasa, 03 Maret 2026 / 02:30 WIB
Ancaman Selat Hormuz: RI Wajib Cari Minyak Non-Timur Tengah

Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Tahun ini, subsidi untuk LPG dan BBM diperkirakan mencapai sekitar Rp106 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor minyak dan gas pada 2024 mencapai US$36,28 miliar.

Menurut Fabby, lonjakan harga global akibat konflik atau gangguan pasokan dapat langsung berdampak pada neraca perdagangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ketika harga global naik, biaya impor melonjak, APBN semakin terbebani untuk menjaga harga subsidi, dan ketahanan energi nasional tetap bergantung pada pasar global yang tidak bisa kita kendalikan,” tegasnya.

Tonton: IAEA Gelar Rapat Darurat: US & Israel Serang Iran, Apa Dampaknya bagi Keamanan Nuklir Dunia

Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Situasi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber pasokan energi sekaligus percepatan transisi energi domestik. Tanpa langkah strategis, ketergantungan pada impor energi dari kawasan rawan konflik akan terus menjadi risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia.

Diversifikasi impor, penguatan produksi dalam negeri, serta percepatan pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas energi dan fiskal dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

×