Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Tahun ini, subsidi untuk LPG dan BBM diperkirakan mencapai sekitar Rp106 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor minyak dan gas pada 2024 mencapai US$36,28 miliar.
Menurut Fabby, lonjakan harga global akibat konflik atau gangguan pasokan dapat langsung berdampak pada neraca perdagangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Ketika harga global naik, biaya impor melonjak, APBN semakin terbebani untuk menjaga harga subsidi, dan ketahanan energi nasional tetap bergantung pada pasar global yang tidak bisa kita kendalikan,” tegasnya.
Tonton: IAEA Gelar Rapat Darurat: US & Israel Serang Iran, Apa Dampaknya bagi Keamanan Nuklir Dunia
Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber pasokan energi sekaligus percepatan transisi energi domestik. Tanpa langkah strategis, ketergantungan pada impor energi dari kawasan rawan konflik akan terus menjadi risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia.
Diversifikasi impor, penguatan produksi dalam negeri, serta percepatan pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas energi dan fiskal dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













