Ada 3 Tantangan Besar, BI Tetap Optimistis Ekonomi RI Tahun Ini Tumbuh 4,5%-5,3%

Sabtu, 14 Mei 2022 | 16:15 WIB   Reporter: Dendi Siswanto
Ada 3 Tantangan Besar, BI Tetap Optimistis Ekonomi RI Tahun Ini Tumbuh 4,5%-5,3%


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski tekanan belum kendur, ekonomi Indonesia diyakini menggeliat tahun ini. Tanda perbaikan ekonomi sudah terlihat di kuartal I 2022.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun 2022 telah memberikan harapan yang lebih baik jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Namun, Indonesia masih akan menghadapi 3 tantangan utama dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi. Yakni, normalisasi kebijakan moneter di negara maju, masih adanya dampak dari pandemi di sektor riil, serta berlanjutnya ketegangan politik Rusia-Ukraina.

“Secara global kita sudah melihat dampaknya adalah tekanan inflasi yang begitu kuat, sehingga ini harus diimbangi dengan normalisasi yang agresif yang dilakukan beberapa bank sentral dengan menaikkan suku bunga. Dan tentunya juga mengurangi likuiditas sitem keuangan,” ujar Destry dalam acara Peluncuran Buku: Kajian Stabilitas Keuangan No.38 Maret 2022 secara daring, Jumat (13/5).

Destry mengatakan, hal ini tentu memberikan ketidakpastian lebih lanjut dengan semakin terbatasnya aliran modal ke emerging market termasuk juga ke Indonesia. Namun, ia tetap bersyukur, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2022 tumbuh positif di angka 5,01% yoy. Dus, ia pun optimistis perekonomian Indonesia pada tahun 2022 bisa tumbuh 4,5% hingga 5,3%.

“Hal ini tentunya memberikan harapan adanya perbaikan ekonomi, dan kita masih sangat optimis dan confidence bahwa perekonomian di Indonesia tahun 2022 ini bisa dapat tumbuh dikisaran 4,5%-5,3%,” jelasnya.

Baca Juga: Indonesia, Salah Satu Negara yang Berhasil Catat Pertumbuhan di Atas Pra Pandemi

Meski begitu, efek luka memar (scarring effect) akibat pandemi yang berkepanjangan masih bisa dirasakan hingga sekarang. Sehingga hal tersebut perlu dicermati untuk exit strategi dan timing yang tepat dalam normalisasi kebijakan.

Destry menilai, normalisasi kebijakan yang terlalu prematur akan sangat berisiko bagi pemulihan ekonomi dan sektor keuangan. Namu, apabila terlalu lambat juga akan berdampak kepada akselerasi resiko makro yang lebih cepat.

Oleh karena itu, BI bersama pemerintah dan otoritas terkait akan berusaha menjaga momentum pemuliha melalui penguatan sinergi dalam rangka bauran kebijakan.

Dari sisi fiskal, pentingnya dukungan kebijakan untuk pemulihan ekonomi akan semakin diperkuat dengan peran strategis Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorder dalam menjaga roda perekonomian dan daya beli masyarakat terutama kelompok masyarakat rentan.

Baca Juga: BKF: MotoGP Beri Kontribusi Positif ke Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru