Global

Total kekayaan 1% orang-orang terkaya di dunia meningkat, kesenjangan semakin curam

Kamis, 24 Juni 2021 | 10:10 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Total kekayaan 1% orang-orang terkaya di dunia meningkat, kesenjangan semakin curam

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Orang terkaya semakin kaya di tengah Pandemi Covid-19. Berdasarkan Laporan Kekayaan Global 2021 yang dirilis oleh raksasa perbankan Swiss Credit Suisse, 1% dari pupulasi dunia yang merupakan orang terkaya mengalami kenaikan pangsa pasar kekayaan terhadap total kekayaan global pada tahun 2020. 

Laporan tersebut mendefinisikan 1 % orang terkaya ini merupakan orang-orang yang memiliki aset keuangan dan propertinya setelah dikurangi semua kewajiban bernilai lebih dari US$1 juta. Total kekayaan gabungan dari 1% orang-orang terkaya ini mengalami kenaikan menjadi 46% terhadap total kekayaan global. Ini menandakan bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin dalam. 

Credit Suisse Group mencatat, pangsa pasar kekayaan 1% orang-orang terkaya terutama mengalami kenaikan di 10 negara. Kenaikan ini didorong oleh upaya stimulus pemerintah dan bank sentralnya menekan dampak pandemi Covid-19, itu terutama dengan adanya penurunan suku bunga.  Negara-negara tersebut diantaranya Amerika Serikat (AS), China, Brazil,  India, UK dan Italia. 

Orang terkaya Brasil meningkatkan pangsa pasar kekayaan mereka menjadi 2,7% tahun lalu terhadap total kekayaan global dan menyumbang hampir 50% dari kekayaan negaranya. Kekayaan orang terkaya di China menyumbang 30% terhadap total kekayaan negaranya, India 40%,  Italia 22%, UK 23% dan US 35%. 

Laporan tersebut menyoroti kenaikan cepat kekayaan di seluruh dunia. Menurut Indeks Miliader Bloomberg, sebanyak 500 orang terkaya di dunia menambahkan US$ 1,8 triliun ke kekayaan bersih gabungan mereka tahun lalu.

Baca Juga: Sederet miliarder mengemplang pajak, AS menyelidiki pembocor data

“Kelompok kekayaan teratas relatif tidak terpengaruh oleh penurunan tingkat keseluruhan kegiatan ekonomi dan, yang lebih penting, mereka juga mendapat manfaat dari dampak penurunan suku bunga pada harga saham dan harga rumah,” tulis Credit Suisse Group  dalam laporan itu, dikutip Bloomberg, Rabu (23/6).

Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga telah mendorong 88 juta hingga 115 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem tahun 2020 yakni keadaan di mana seseorang hidup dengan kurang dari US$ 1,90 per hari. Angka tersebut dapat meningkat menjadi sebanyak 150 juta tahun ini, tergantung pada tingkat keparahan kontraksi ekonomi, menurut Bank Dunia.

Rasio Gini atau alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk meningka selama tahun 2020 di semua 10 negara yang dipilih untuk penelitian Credit Suisse  tersebut, kecuali di AS yang hanya turun sedikit. Kekayaan rumah tangga global pada akhir tahun lalu mencapai US$ 418 triliun, naik 7,4% dari periode yang sama tahun 2019.

Penciptaan kekayaan yang cepat, ketidaksetaraan, dan defisit pemerintah mendorong gerakan di seluruh dunia untuk mengenakan pajak pada orang kaya.Presiden AS Joe Biden berusaha untuk meningkatkan pajak capital gain dan jumlah yang harus dibayar oleh ahli waris kaya ketika mereka mewarisi aset. 

Sebuah komisi independen Inggris pada bulan Desember menyerukan retribusi kekayaan satu kali untuk mengumpulkan sekitar 260 miliar pound (US$ 361 miliar), sementara negara-negara lain termasuk Argentina dan Bolivia telah mengumpulkan dana pada tahun lalu dari langkah-langkah yang menargetkan orang kaya.

Selanjutnya: Jack Ma sekarang jarang muncul ke publik, ini kesibukan terbarunya

 

 

Editor: Handoyo .
Terbaru