Global

Taiwan batasi jumlah pekerja migran Indonesia, gara-gara banyak yang positif corona

Senin, 30 November 2020 | 23:35 WIB Sumber: Reuters
Taiwan batasi jumlah pekerja migran Indonesia, gara-gara banyak yang positif corona


KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Taiwan akan membatasi kedatangan pekerja migran Indonesia mulai minggu ini, menyusul lonjakan kasus virus corona baru di antara pekerja migran yang datang dari negara Asia Tenggara itu.

Taiwan adalah rumah bagi lebih dari 250.000 pekerja migran dari Indonesia, yang memiliki jumlah kasus virus corona dan kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Meskipun langkah-langkah pencegahan awal dan efektif telah membantu Taiwan mengendalikan pandemi dengan baik, tanpa penularan lokal selama lebih dari 200 hari, pulau itu bergulat dengan peningkatan yang stabil dalam jumlah kasus impor.

Lebih dari 70 orang Indonesia yang datang ke Taiwan untuk bekerja, sebagian besar sebagai pembantu rumahtangga, dinyatakan positif sejak awal bulan ini, angka Pemerintah Taiwan menunjukkan, seringkali saat masih dalam karantina wajib selama 14 hari.

Baca Juga: Selain virus corona, Korea Selatan tingkatkan upaya kekang flu burung sangat patogen

Pusat Komando Epidemi Pusat Taiwan mengatakan, akan menangguhkan kedatangan pekerja migran Indonesia mulai 4 hingga 17 Desember. Dan, mempertimbangkan, apakah akan melanjutkan pembatasan itu mulai 18 Desember nanti.

Yang jelas, Taiwan membatasi jumlah pekerja Indonesia yang masuk ke wilayah mereka menjadi setengah. "Tindakan selanjutnya akan tergantung pada situasi," kata Pusat Komando Epidemi Pusat Taiwan dalam pernyataan Senin (30/11), seperti dikutip Reuters.

Sebanyak 20 dari 24 kasus baru pada Senin (30/11) berasal dari Indonesia, menurut data Pemerintah Taiwan. Saat ini, sebanyak 103 orang, baik sedang menjalani isolasi ataupun perawatan di rumahsakit, terjangkit virus corona di Taiwan.

Mulai bulan depan, Taiwan akan memberlakukan persyaratan masuk untuk semua kedatangan, membutuhkan bukti tes negatif dari hampir semua negara, termasuk warga Taiwan yang sebelumnya tidak harus memberikan bukti tersebut.

Selanjutnya: Studi di Singapura mempelajari efek Covid-19 pada ibu dan janin, apa hasilnya?

 

Editor: S.S. Kurniawan


Terbaru