Tahun Ini, Tren Aksi Merger dan Akuisisi di Indonesia Masih Ramai

Jumat, 07 Oktober 2022 | 07:15 WIB   Reporter: Dimas Andi
Tahun Ini, Tren Aksi Merger dan Akuisisi di Indonesia Masih Ramai


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi korporasi berupa merger dan akuisisi tampak masih cukup ramai di Indonesia sepanjang tahun 2022 berjalan. Tren demikian diperkirakan akan berlanjut kendati dunia tengah menghadapi ancaman resesi ekonomi.

Direktur Merger dan Akuisisi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Aru Armando menyampaikan, sampai hari ini (6/10) pihaknya sudah menerima 244 notifikasi terkait aksi merger dan akuisisi. “Hasil ini melebihi realisasi sepanjang 2021 lalu yang jumlahnya 233 notifikasi,” kata dia, Kamis (6/10).

Hanya saja, KPPU belum bisa menjelaskan sektor-sektor industri mana saja yang meramaikan kegiatan merger dan akuisisi di tahun ini.

Baca Juga: Merger dan Akuisi Sembilan Bulan Turun 53,1%, Sektor Komunikasi dan Teknologi Jeblok

Salah satu perusahaan yang terlibat dalam merger dan akuisisi di tahun ini adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL). Pada 22 Juni 2022, Axiata Group Berhad dan XL Axiata menyelesaikan akuisisi 66,03% saham PT Link Net Tbk (LINK) dengan nilai RM 2,63 miliar atau sekitar Rp 8,72 triliun.

Head External Communications XL Axiata Henry Wijayanto menyampaikan, saat ini pihaknya masih terus fokus untuk membangun dan mengembangkan sinergi bersama antara XL dengan Link Net. Ke depannya, sinergi bersama ini dapat meningkatkan upaya XL Axiata untuk memperluas penyediaan layanan konvergensi dan digital bagi masyarakat Tanah Air.

“Saat ini dan ke depannya pelanggan-pelanggan kami semakin tak bisa lepas dari gaya hidup digital dalam kehidupan sehari-hari,” ujar dia, Kamis (6/10).

Selain XL Axiata, terdapat PT ABM Investama Tbk (ABMM) melalui anak usahanya PT Radhika Jananta Raya yang merealisasikan pembelian 30% saham PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) senilai US$ 420 juta atau setara Rp 6,3 triliun (acuan kurs Rp 15.000 per dollar AS) pada September lalu.

Direktur ABM Investama Adrian Erlangga menyebut, akuisisi sebagian saham GEMS tak hanya berdampak pada peningkatan cadangan dan sumber daya batubara yang bisa dikelola oleh ABMM. Akuisisi tersebut juga menjadi sinergi yang positif antara ABMM dengan GEMS yang notabene dimiliki oleh Grup Sinar Mas.

“Kerja sama dengan GEMS sudah terjadi cukup lama. Sekarang makin diperkuat oleh partnership pada aset yang diakuisisi ini,” ungkap dia, Kamis (6/10).

Kendati tidak dijelaskan secara gamblang, ABMM masih terbuka terhadap peluang akuisisi di masa mendatang, yang mana perusahaan ini akan lebih berfokus pada akuisisi tambang non batubara.

Dalam catatan Kontan.co.id, terdapat beberapa contoh aksi merger dan akuisisi lain yang cukup menyita perhatian sepanjang tahun 2022 berlangsung. Misalnya, pada awal tahun ini terjadi merger antara PT Indosat Tbk (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia. Usai merger, keduanya melahirkan entitas baru bernama Indosat Ooredoo Hutchison.

Baca Juga: META Targetkan Akuisisi Tol Entitas Jasa Marga Kelar Oktober 2022

Mengutip berita sebelumnya, aset tidak lancar Indosat meningkat pasca aksi merger dilakukan yakni sebesar 68,5% menjadi Rp 87,45 triliun per 31 Maret 2022.

Selain itu, jelang akhir kuartal I-2022, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengakuisisi 100% saham ConocoPhillips Indonesia Holding Ltd yang menguasai ConocoPhillips (Grissik) Ltd selaku operator Blok Corridor. Nilai transaksi akuisisi tersebut berjumlah US$ 1,32 miliar atau setara Rp 19,8 triliun (acuan kurs Rp 15.000 per dollar AS).

Berikutnya, terdapat akuisisi yang dilakukan oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel terhadap 6.000 aset menara milik PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) pada 29 Juli 2022.

Setelah itu, Mitratel akan menyewakan kembali menara tersebut kepada Telkomsel. Akuisisi 6.000 menara tersebut berpotensi memberi tambahan pendapatan backlog Rp 6,9 triliun bagi Mitratel hingga 10 tahun ke depan.

Dari industri keuangan, terdapat akuisisi Bank Mayora oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) senilai Rp 3,5 triliun pada pertengahan Mei lalu. BNI membeli saham Bank Mayora dari pemilik sebelumnya yaitu International Finance Corporation (IFC). Ada pula akuisisi PT Bank Jasa Jakarta senilai Rp 3,88 triliun oleh Grup Astra melalui PT Sedaya Multi Investama (SMI) atau Astra Financial pada 16 September kemarin.

Sementara itu, Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, aksi merger dan akuisisi di Indonesia berpotensi semakin marak di tahun 2023 mendatang sekalipun ada ketidakpastian ekonomi. Justru, merger dan akuisisi dapat menjadi konsolidasi modal  bagi perusahaan yang terlibat untuk bertahan dari tekanan ekonomi.

“Faktor mitigasi risiko diperkirakan lebih dijadikan alasan merger atau akuisisi dibandingkan kebutuhan integrasi layanan untuk ekspansi,” ujar dia, Kamis (6/10).

Beberapa sektor industri diperkirakan tetap meramaikan aksi merger dan akuisisi dengan berbagai pertimbangan. Merger dan akuisisi di sektor perbankan dan fintech dilandasi oleh kebutuhan memperkuat modal antar perusahaan di sektor tersebut, mengingat adanya desakan regulasi terkait modal minimum.

Baca Juga: Berbagai Pengelola Dana Global Serbu Aset Infrastruktur di Asia Tenggara

Bagi perusahaan rintisan atau startup, merger dan akuisisi dapat terjadi karena adanya kebutuhan untuk meningkatkan pencadangan modal sebagai antisipasi terhadap perlambatan ekonomi nasional dan global.

Momen kenaikan harga komoditas juga bisa memicu terjadinya merger dan akuisisi bagi perusahaan sektor pertambangan dan perkebunan demi memperkuat ekspansi bisnis mereka.

Tak hanya itu, merger dan akuisisi juga bisa terjadi dalam rangka integrasi layanan secara vertikal. Misalnya, merger antara perusahaan e-commerce dengan perusahaan logistik atau perbankan dengan fintech.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru