kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tahun Ini, Dana Kelolaan Industri Reksadana Diprediksi Bakal Tumbuh Solid


Jumat, 07 Januari 2022 / 09:45 WIB
Tahun Ini, Dana Kelolaan Industri Reksadana Diprediksi Bakal Tumbuh Solid

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) industri reksadana berhasil catatkan kenaikan sepanjang 2021. Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada akhir 2021, AUM industri reksadana mencapai Rp 579,95 triliun atau naik 1,12% dari periode sebelumnya yang sebesar Rp 573,54 triliun. 

Terdapat tiga jenis reksadana yang berhasil catatkan pertumbuhan AUM di atas 10%. Pertama, ada reksadana global yang dana kelolaannya naik dari Rp 12,65 triliun menjadi Rp 19,43 triliun atau tumbuh 53,60%.

Lalu, ada juga reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap yang mencatatkan kenaikan 17,75% dan 13,05% masing-masing menjadi Rp 111,33 triliun dan Rp 157,31 triliun. 

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menjelaskan, reksadana berdenominasi dollar AS berhasil tumbuh karena kinerja aset reksadana ini, yaitu saham di kawasan Asia Pasifik ini juga meningkat. 

Baca Juga: Reksadana Global Catatkan Pertumbuhan Dana Kelolaan Paling Tinggi Sepanjang 2021

Hal ini juga didukung oleh menangnya Partai Demokrat di Amerika Serikat sehingga membuat dana investasi asing masuk kembali ke pasar Asia Pasifik dan menjadi booster aset reksadana denominasi dollar AS.

“Terlebih lagi, perbaikan ekonomi di negara seperti AS dan China jauh lebih baik sehingga dari sisi kinerja reksadana global mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Alhasil, pertumbuhan aset tersebut ikut mendorong naiknya AUM reksadana global,” ujar Reza ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (6/1).

Untuk tahun ini, Reza meyakini AUM seluruh jenis reksadana secara umum bisa catatkan pertumbuhan. Reksadana global misalnya, dengan kondisi rupiah menguat, maka investor bisa membeli reksadana ini dengan harga yang lebih murah. Seiring dengan perbaikan ekonomi global, saham-saham di negara Asia Pasifik uang jadi underlying asset akan jadi ikut terangkat. 

Belum lagi kebutuhan dan minat masyarakat terhadap dollar AS akan terus bertambang seiring berkembangnya basis investor. Alhasil kelolaan reksadana berdenominasi dollar AS akan kembali catatkan pertumbuhan signifikan. 

Sementara untuk reksadana pendapatan tetap dan pasar uang juga masih akan tumbuh pada tahun ini. Kedua jenis ini merupakan instrumen yang paling cocok untuk pemula, punya varian produk yang beragam, hingga modal investasinya pun tidak besar.

Baca Juga: Dana Kelolaan Industri Reksadana Tumbuh 1,12% di 2021

Hal ini membuat kedua produk tersebut banyak diminati oleh investor pemula yang jumlahnya masih akan terus tumbuh ke depannya. 

“Bunga tabungan dan deposito juga cenderung stagnan sehingga bisa saja membuat orang-orang  mulai mencari instrumen investasi lain untuk memastikan pendapatan tetap mengalir. Ini yang membuat banyaknya minat para investor baru pada dua jenis reksadana ini,” imbuhnya.

Sementara untuk reksadana berbasis saham, Reza meyakini pada tahun ini prospek pemulihan ekonomi masih akan mendorong tren positif kinerja IHSG. Tapi di satu sisi pasar saham akan masih berpotensi mengalami volatilitas yang tinggi seiring dengan kebijakan tapering dan perubahan suku bunga dari The Fed maupun US Treasury. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×