kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Suku Bunga The Fed Naik, Bagaimana Dampaknya Terhadap Harga Emas?


Jumat, 28 Juli 2023 / 08:05 WIB
Suku Bunga The Fed Naik, Bagaimana Dampaknya Terhadap Harga Emas?

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mencatatkan kenaikan moderat ke sekitar US$ 1.970 per ons troi pada perdagangan Rabu (26/7). Kenaikan ini didukung oleh pelemahan kurs dolar Amerika Serikat (AS) dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, komentar Ketua The Fed Jerome Powell juga memberikan sentimen positif bagi harga emas.

Setelah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps usai FOMC Juli 2023, Powell mengatakan bahwa The Fed belum membuat keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan pada setiap pertemuan lainnya. 

“Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa The Fed akan melewatkan kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya di bulan September 2023,” kata Sutopo saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (27/7).

Baca Juga: Harga Emas Mendekati Level Tertinggi Sepekan Karena Pelemahan Dolar

Sutopo memprediksi, kenaikan emas cenderung terbatas dalam jangka pendek, sebab bank sentral Eropa berpotensi menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada pertemuan pekan ini.

Terkait prediksi harga emas yang akan menembus US$ 2.024 per ons troi, menurutnya hal itu hanya perkiraan belaka yang didasari pada perkiraan inflasi AS yang mulai dingin dan tidak dibutuhkan pengetatan yang agresif lagi. 

"Namun kita harus melihat tempat lain. Inflasi rata-rata masih sangat tinggi, baik di Eropa maupun di Inggris sehingga prospek kenaikan suku bunga masih ada," tutur Sutopo. 

Melihat beberapa peristiwa sebelumnya, yaitu pandemi Covid-19, perang, dan penurunan suku bunga tidak membawa emas bertahan lebih lama di atas level US$ 2.000. Artinya, secara historis, level US$ 2.000 dianggap terlalu mahal.  

Sutopo memprediksi, harga emas berpotensi turun ke level US$ 1.925 per ons troi di akhir tahun jika pelepasan posisi beli emas berlangsung. Oleh sebab itu, menurut Sutopo, untuk saat ini, riskan untuk membeli emas.

Sebelumnya, analis J.P. Morgan mengestimasi, harga emas dapat melampaui US$ 2.000 per ons troi pada akhir tahun ini menjelang kemungkinan resesi AS. Lalu, harga emas akan naik ke rekor baru pada tahun 2024 berkat suku bunga yang mulai turun. Risiko geopolitik juga menjadikan emas semakin menarik terutama bagi pemerintah.

Sementara itu, Analis Mata Uang dan Komoditas Lukman Leong melihat, harga emas sudah akan kembali melanjutkan rally panjang. Namun, koreksi harga akibat profit taking maupun data ekonomi yang lebih baik akan tetap terjadi.

Baca Juga: Harga Emas Naik, Dipicu Pelemahan Dolar AS Pasca Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga emas berpotensi kembali memecahkan rekor dengan kisaran ideal di US$ 2.150-US$ 2.200 per ons troi.

“Faktor pendorongnya berasal dari meredanya tekanan suku bunga dan melambatnya ekonomi, serta perang di Ukraina yang masih terus tereskalasi,” kata Lukman.

Sementara hingga akhir tahun ini, harga emas kemungkinan akan berkisar di US$ 2.000-US$ 2.050 per ons troi. Katalis kenaikannya berasal dari pembelian para bank sentral di dunia.

Bagi investor yang mau menunggu koreksi, ada beberapa level support harga yang tepat untuk masuk, yakni di US$ 1.900 per ons troi dan US$ 1.960 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×