Subsidi LPG 3 Kg Berpotensi Tembus Rp 127 Triliun, Efek Kenaikan Harga Komoditas

Kamis, 12 Mei 2022 | 05:15 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
Subsidi LPG 3 Kg Berpotensi Tembus Rp 127 Triliun, Efek Kenaikan Harga Komoditas


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial menyatakan, subsidi gas LPG 3 Kg berpotensi naik imbas kenaikan harga minyak dunia di pasar internasional.

Syahrial mengatakan, konsumsi volume penggunaan LPG 3 Kg pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 8 juta metrik ton.

“Selama ini ada 53 juta rumah tangga kita yang mengkonsumsi LPG 3 Kg, itu sekitar 8 juta metrik ton setahun. Subsidi yang harus disediakan pemerintah dengan harga minyak sekarang hampir Rp 127 triliun,” ucap Syahrial dalam Konferensi Nasional Green Economy Indonesia Summit 2022: The Future Economy of Indonesia, Rabu (11/5).

Syahrial mengatakan, untuk menekan subsidi LPG 3 Kg ke depan salah satunya akan melakukan subsitusi ke kompor induksi jaringan gas (Jargas). Ia menyebut penggunaan jaringan gas ini lazim digunakan di negara-negara Eropa.

“Karena walaupun kita kaya gas tapi yang namanya LPG itu 80% kita impor karena memang LPG bukan gas yang ringan yang kita miliki, tapi gas yang memang kita datangkan dengan impor,” terang Syahrial.

Baca Juga: Jika Harga Pertalite, LPG 3 kg, dan Tarif Listrik Naik, Inflasi 2022 Diprediksi 4%

Lebih lanjut Syahrial mengatakan, arah kebijakan energi saat ini adalah transisi energi fosil ke energi yang lebih bersih, ramah lingkungan dan minim emisi. Hal ini terutama akan fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Kementerian ESDM menargetkan porsi EBT mencapai 23% pada tahun 2025. “Hingga akhir tahun 2021 realisasi porsi EBT dalam bauran energi kita baru mencapai 11,7%,” ucap Syahrial.

Selain itu, untuk meningkatkan penggunaan EBT pemerintah memberikan insentif fiskal dan non fiskal untuk EBT, kemudahan perizinan nerusaha, dan penerapan Peraturan Menteri (Permen) ESDM tentang PLTS atap. Serta saat ini pemerintah tengah proses finalisasi rancangan peraturan presiden mengenai pembelian EBT.

“Intinya agar harga EBT bisa lebih kompetitif dan bersaing dengan harga bahan bakar energi fosil,” ucap Syahrial.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan, pihaknya masih terus melakukan pengkajian terkait hal ini dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global. Khususnya terkait dampak perang Rusia dan Ukraina yang turut meningkatkan harga komoditas di pasar internasional dan inflasi di sejumlah negara.

Kehati-hatian ini mengingat, adanya kenaikan harga komoditas terutama minyak mentah dunia yang akan mempengaruhi anggaran subsidi energi yang diberikan kepada masyarakat.

“Di sisi lain, kehati-hatian juga harus diperhitungkan karena kalau terjadi peningkatan harga komoditas maka subsidi juga akan meningkat. Tentu kami harus mencari balance yang paling pas berapa besar yang harus kita lakukan,” tutur Suahasil dalam konferensi pers APBN KITA, Rabu (20/4).

Meski begitu, Suahasil belum bisa memastikan kapan proses pengkajian wacana kenaikan Pertalite dan LPG 3 kg rampung.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sinyal akan ada lagi kenaikan BBM Pertalite dan gas LPG 3 kg pada tahun ini.

Baca Juga: Begini Rencana Pertamina untuk Menggenjot Kinerja di Sektor Hulu

“Over all, yang akan terjadi itu Pertamax, Pertalite, Premium belum, gas yang 3 kg itu (ada kenaikan) bertahap. Jadi 1 April, nanti Juli, nanti September itu bertahap (naiknya) dilakukan oleh pemerintah,” kata Luhut.

Luhut bilang, sejak 2007 harga gas LPG 3 kg tidak pernah ada perubahan. maka dari itu, pemerintah memutuskan untuk menaikkannya namun tetap disubsidi.

“Iya semua akan naik enggak ada yang enggak akan naik. Jadi bertahap kami lakukan. Ada yang disubsidi yang tadi untuk rakyat kecil. Tapi seperti gas 3 kg ini dari 2007 tidak pernah naik, jadi tidak adil juga,” ujar Luhut

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru