kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Stok CPO Melimpah, Industri Sawit Hadapi Ancaman Besar Ini


Selasa, 03 Maret 2026 / 02:20 WIB
Stok CPO Melimpah, Industri Sawit Hadapi Ancaman Besar Ini

Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut transportasi pengiriman untuk ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) berpotensi tertekan seiring eskalasi konflik Israel–Iran dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan meningkatnya tensi geopolitik global berisiko memicu hambatan transportasi dalam pengiriman CPO nasional, terutama ke kawasan Timur Tengah.

“Pengiriman ekspor akan terganggu. Kalau ekspor terganggu, kemungkinan stok dalam negeri meningkat,” ujar Eddy saat dihubungi Kontan, Senin (2/3/2026).

Lonjakan stok domestik yang terjadi dalam waktu lama berpotensi menekan rantai pasok dari hulu ke hilir. Jika penumpukan tidak segera teratasi, proses produksi di tingkat perkebunan dan pabrik kelapa sawit dapat ikut terdampak.

Menurut Eddy, pelaku usaha relatif sulit menyiapkan langkah antisipatif karena kendala utama berada pada aspek transportasi dan jalur distribusi internasional. “Karena yang menjadi masalah adalah hambatan transportasi, jadi ini agak sulit,” katanya.

Baca Juga: Konflik Iran-AS: KBRI Abu Dhabi Tetapkan Status Siaga III & Rilis Imbauan Penting

Harga CPO Global Berpotensi Fluktuatif

Selain gangguan logistik, GAPKI juga mencermati bahwa konflik geopolitik yang memanas berpotensi memicu volatilitas harga CPO global. Ketidakpastian pasar biasanya berdampak pada pergerakan harga komoditas, termasuk minyak sawit mentah.

Sepanjang 2025, total volume ekspor CPO dan produk turunannya ke kawasan Timur Tengah tercatat mencapai 1,83 juta ton. Sementara itu, ekspor langsung ke Iran relatif kecil, yakni sekitar 24,17 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 29,22 juta.

Risiko Konsentrasi Pasar Dinilai Rendah

Senada dengan GAPKI, Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto menyatakan bahwa porsi ekspor ke Iran tidak signifikan dibandingkan total ekspor nasional.

Menurut Darto, kawasan Timur Tengah secara agregat menyerap sekitar 5%–8% dari total ekspor CPO dan produk turunannya. Negara tujuan utama umumnya meliputi Pakistan, Bangladesh (secara geografis Asia Selatan), serta sejumlah negara di kawasan Teluk.

Dengan struktur pasar ekspor yang terdiversifikasi, industri sawit nasional dinilai cukup resilien terhadap gejolak di satu kawasan tertentu.

Baca Juga: Resmi Berlaku! Pungutan CPO Naik 12,5% Mulai 2 Maret: Eksportir Wajib Tahu!

“Perang lebih berpotensi menjadi sentimen jangka pendek yang mempengaruhi volatilitas harga, bukan mengganggu volume ekspor secara signifikan. Industri sawit kita relatif kuat karena pasar ekspor yang tersebar,” jelas Darto.

Dorongan Hilirisasi dan Efisiensi Produksi

Untuk menjaga daya saing di tengah tekanan global, penguatan hilirisasi dinilai semakin penting. Ekspor tidak hanya berbentuk CPO mentah, tetapi juga produk turunan bernilai tambah seperti olein, stearin, dan biodiesel.

Selain itu, efisiensi biaya produksi menjadi faktor krusial agar pelaku usaha tetap kompetitif ketika harga global tertekan akibat dinamika geopolitik.

Tonton: Selat Hormuz Ditutup! Ekonomi RI Terancam, Biaya Ekspor Impor Bisa Meledak

Dengan strategi diversifikasi pasar, hilirisasi, dan efisiensi biaya, industri sawit Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas ekspor di tengah ketidakpastian global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

×