kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

SPI: Lonjakan Harga Pupuk Jadi Momok Kenaikan Harga Pangan


Rabu, 08 Maret 2023 / 07:15 WIB

Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Serikat Petani Indonesia (SPI) mengungkap kenaikan harga pupuk menjadi salah satu momok kenaikan harga pangan termasuk beras beberapa waktu terakhir. 

Ketua Departemen Kajian Strategis Dewan Pengurus Pusat SPi, Mujahid Widian mengatakan kenaikan harga pupuk dan terbatasnya pupuk subsidi untuk petani mempengaruhi biaya modal dan produksi yang dikeluarkan oleh petani. 

"Otomatis berdampak pada harga pangan, sementara petani di Indonesia masih ketergantungan terhadap pupuk (kimia)," kata Mujahid pada Kontan.co.id, Selasa (7/3). 

Baca Juga: Cek Langsung Harga Gabah ke Petani, Jokowi: Harga Masih Tinggi

Menurutnya kesulitan akan pupuk kimia ini masih menjadi masalah bagi petani yang belum kunjung terpecahkan. 

Khusus untuk pupuk subsidi sendiri menurutnya banyak catatan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Selama ini ia mengaku masih banyak petani kesulitan mengakses pupuk subsidi yang disebabkan oleh banyak hal. 

Pertama, manipulasi atau mark up data Rencana Definitif Kelompok atau Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDK/RDKK). Kedua, Pendataan kartu tani yang masih belum optimal mencakup seluruh petani yang menjadi subjek penerima bantuan pupuk subsidi. 

Ketiga, rantai penyaluran pupuk bersubsidi yang tidak praktis. "Skema penyaluran yang melibatkan banyak stakeholder (perusahaan dan kios penjual pupuk) di beberapa wilayah berakibat pada terlambatnya penyaluran bahkan sering kali tak sampai ke petani," kata Mujahid. 

Baca Juga: Ekonom: Penyaluran Bansos Pangan Tak Efektif Tekan Inflasi di Ramadan dan Lebaran

Keempat, masih adanya diskriminasi terhadap penerima pupuk subsidi yang hanya merekognisi kelompok tani dan gabungan kelompok tani.

"Hal ini berimbas pada tidak diakuinya bentuk-bentuk lain, seperti organisasi petani bahkan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi petani, untuk menerima bantuan pupuk bersubsidi," papar Mujahid. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS Inventory Management: From Chaos to Control

×