Selain Resesi Global, Tahun 2023 Industri Properti Juga Soroti Isu Jelang Pemilu

Sabtu, 03 Desember 2022 | 09:15 WIB   Reporter: Venny Suryanto
Selain Resesi Global, Tahun 2023 Industri Properti Juga Soroti Isu Jelang Pemilu


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Knight Frank Indonesia melakukan survei singkat tahunan berjudul Property Outlook Survey 2023.

Survei menunjukkan, subsektor properti yang diprediksi prospektif adalah rumah tapak (landed house) sebagai pilihan dominan para responden. Subsektor lainnya meliputi industri, pergudangan modern, ritel, hotel, dan villa resor.

Sementara untuk subsektor perkantoran dinilai masih stagnan dan apartemen strata cenderung melemah.

Berdasarkan survei, 59% responden optimistis pertumbuhan sektor properti akan relatif stabil untuk 2023 dimana situasi ekonomi global dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor properti di dalam negeri. Tetapi, beberapa potensi resiko patut diwaspadai oleh sektor properti di 2023.

Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor, Knight Frank Indonesia mengatakan, di tengah optimisme pasar dalam memproyeksikan stabilitas sektor properti untuk 2023 terkait isu resesi dan naiknya suku bunga, para responden juga mewaspadai berbagai potensi resiko yang bisa mengganggu perkembangan sektor properti.

Baca Juga: Knight Frank Indonesia Sebut Sektor Properti Masih Dilematis

“Seperti dampak pandemi yang berkelanjutan, kenaikan inflasi, dan semakin dekatnya pemilu,” jelas dia dalam keterangan resminya, Jumat (2/12).

Knight Frank mengungkapkan, ekonomi di tahun 2022 menjadi tahun yang penuh dinamika, termasuk bagi upaya kebangkitan sektor properti di Indonesia.

Ketika pandemi mereda, tantangan baru hadir mulai dari naiknya harga material bangunan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga adanya lonjakan inflasi serta suku bunga sebagai dampak dari krisis ekonomi global.

“Namun, optimisme sektor properti masih relatif tumbuh didorong oleh berbagai regulasi yang masih bergulir dari pemerintah dan semangat kolektif para pemangku kepentingan,” sambungnya.

Survei juga menangkap adanya kecenderungan pasar di mana 66% responden memilih untuk wait and see pemulihan sektor properti dalam 3-5 tahun kedepan. Hal ini karena masuknya Indonesia pada persiapan menjelang tahun politik di 2024 nanti.

Selanjutnya, daerah Jabodetabek masih dinilai sebagai kawasan yang prospektif untuk investasi sektor properti, sedang wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) di posisi kedua. Bisnis e-commerce, pusat data, dan logistik juga dinilai memiliki daya ungkit positif terhadap pertumbuhan properti tahun depan.

Sejalan dengan hasil survei tersebut, laporan Knight Frank Asia Pasifik juga menyebutkan bahwa Jakarta merupakan salah satu kota penyedia paling aktif untuk pusat data di wilayah Asia Pasifik.

Baca Juga: Kredit Konstruksi Apartemen Sedang Dihindari Bank, Kenapa?

Pusat data juga tergolong dalam 10 besar subsektor real estate yang dipilih oleh investor untuk menanamkan modal dalam 18 bulan kedepan.

Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menyebutkan, tren digitalisasi menjadikan pusat data tumbuh progresif.

Inovasi dan diversifikasi produk pada setiap subsektor properti juga diharapkan mampu membawa kondisi pasar ke arah paradigm swift untuk pemulihan pertumbuhan properti yang lebih menyeluruh. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru