kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

SDM terbatas, OJK mengakui sulit mencari pimpinan bank syariah


Jumat, 26 Februari 2021 / 12:30 WIB
SDM terbatas, OJK mengakui sulit mencari pimpinan bank syariah

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) jadi salah satu tantangan yang dihadapi perbankan syariah saat ini. Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat bahwa peningkatan SDM perlu dituntaskan agar perbankan industri keuangan syariah Indonesia semakin berkembang. 

Heru Kristiyana Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK mengatakan, regulator selalu kesulitan mencari pengganti  setiap kali terjadi pergantian pemimpin pada bank syariah. Oleh karena itu, OJK akan melakukan berbagai hal untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas SDM tersebut. 

"OJK sangat kesulitan mencari SDM atau orang yang akan memimpin perbankan syariah. Berbagai hal semakin sulit, termasuk saat melakukan fit and proper test," kata Heru dalam peluncuran Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia 2021-2025 secara virtual, Kamis (25/2).

Baca Juga: OJK resmi luncurkan Peta Jalan Pengembangan Perbankan Syariah 2020-2025

Heru mengakui tidak mudah untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas SDM di sektor perbankan syariah ini. Menurutnya, asosiasi keuangan syariah harus bisa memberi dukungan untuk menuntaskan permasalahan ini. Ia berharap asosiasi memberikan perhatian besar terkait hal tersebut guna mendorong pengembangan  perbankan syariah ke depan.

Selain tantangan SDM, perbankan syariah juga belum  memiliki diferensiasi model bisnis yang signifikan. Padahal, untuk bisa bersaing dengan bank konvensional, bank syariah harus memiliki produk dengan kualitas yang lebih baik dengan prinsip syariah. 

Kemudian Teknologi Informasi (TI) perbankan syariah juga belum memadai. Sementara di masa pandemi ini, nasabah ingin kemudahan dalam melakukan transaksi tanpa harus ke bank adan ATM untuk sekedar melakukan transfer.

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia & BCA Syariah bidik pembiayaan proyek infrastruktur

"Teknologi ini jadi hal yang sangat penting untuk dientaskan. Tetapi ini tentu butuh modal sehingga penguatan permodalan tidak boleh kita lepaskan," Lanjut Heru. 

Literasi dan inklusi keuangan syariah juga masih rendah. Oleh karena itu, OJK akan terus melakukan upaya agar meningkatkan inklusi keuangan ini. 

Selanjutnya: Pertamina gandeng BRI sosialisasikan Program Pertashop ke 5.000 agen Brilink

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

×