SCG Sebut Pasar Indonesia Masih Potensial untuk Pengembangan Bisnis

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 07:15 WIB   Reporter: Dimas Andi
SCG Sebut Pasar Indonesia Masih Potensial untuk Pengembangan Bisnis


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. SCG Indonesia berhasil mencatatkan kinerja bisnis yang mumpuni sepanjang kuartal II-2022. SCG pun memandang pasar Indonesia masih sangat potensial bagi pengembangan bisnis perusahaan tersebut.

Sebagai informasi, SCG Indonesia meraih peningkatan penjualan sebesar 4% year on year (yoy) menjadi Rp 5,63 triliun atau setara US$ 387 juta di kuartal II-2022. Adapun total aset SCG Indonesia per kuartal II-2022 telah mencapai Rp 51,46 triliun atau setara US$ 3,46 miliar.

Meski tidak disebut komposisi penjualan di masing-masing segmen bisnis, Manajemen SCG Indonesia menyebut bahwa untuk kuartal kedua lalu pertumbuhan penjualan didominasi dari lini bisnis packaging atau kemasan melalui SCGP. SCGP sendiri berinvestasi di FajarPaper atau PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) dan Intan Group.

Baca Juga: Simak Kinerja SCG di Asia Tenggara dan Indonesia pada Semester I-2022

Selain packaging, SCG Indonesia juga memiliki lini bisnis semen dan bahan material bangunan melalui PT Semen Jawa dan PT SCG Readymix Indonesia. Satu lagi, SCG Indonesia memiliki bisnis petrokimia melalui PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk (TPIA) dan PT Nusantara Polymer Solutions.

Secara keseluruhan, SCG Indonesia memiliki beberapa fasilitas produksi untuk ketiga lini bisnisnya di Pulau Jawa. Kawasan tersebut juga menjadi fokus penjualan produk-produk SCG Indonesia.

President Director SCG Indonesia Chakkapong Yingwattanathaworn mengatakan, secara keseluruhan bisnis SCG di Indonesia masih dalam arah yang positif. Pertumbuhan yang pesat dari lini bisnis packaging tak lepas dari permintaan terhadap produk-produk kemasan yang melonjak seiring maraknya aktivitas belanja online di masa pandemi Covid-19. Meski pandemi telah mereda, kebiasaan masyarakat untuk berbelanja online masih terus berlanjut.

Di luar itu, SCG Indonesia juga menilai bisnis semen yang dijalaninya tetap memiliki prospek menjanjikan. Saat ini, SCG Indonesia memiliki pabrik semen yang beroperasi di Sukabumi, Jawa Barat dengan kapasitas 1,8 juta ton per tahun.

Baca Juga: Tahun Lalu, Siam Cement Group (SCG) Catat Penjualan Rp 22,49 Triliun di Indonesia

Memang, bila dibandingkan dengan pemain lain di sektor industri semen, SCG Indonesia belum menjadi pemain besar. “Tapi, ini yang membuat kami memandang masih banyak potensi di pasar Indonesia yang dapat digali lebih lanjut,” kata Chakkapong ketika ditemui Kontan, Jumat (12/8).

SCG Indonesia pun telah melakukan diversifikasi di lini bisnis semen dengan memproduksi produk seperti beton dan bahan bangunan berbasis semen. SCG Indonesia juga memperkuat distribusi produk semennya melalui berbagai gerai bahan bangunan di Tanah Air, termasuk mengoptimalkan penjualan secara online.

Lonjakan harga batubara global tentu menjadi tantangan tersendiri bagi SCG Indonesia dalam menjalankan bisnis semennya. Tapi, hal itu coba diantisipasi melalui inisiatif penggunaan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) pada pabrik semen di Sukabumi. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan energi dari limbah.

“Sekarang dampaknya masih kecil, tapi di tahun-tahun mendatang porsi penggunaan energi alternatif akan terus SCG tingkatkan,” ujar Chakkapong.

Sekadar catatan, SCG menargetkan mencapai netral (net zero) emisi karbon pada tahun 2050 di seluruh area operasionalnya, baik Indonesia maupun di negara-negara ASEAN lainnya. Adapun untuk lini bisnis petrokimia, SCG Indonesia memastikan terus mendukung langkah Chandra Asri Petrochemicals yang sedang melaksanakan pembangunan kompleks Chandra Asri Perkasa (CAP) 2.

Baca Juga: Siam Cement Group (SCG) Caplok 12,75 Persen Saham Depo Bangunan Via IPO

Dalam catatan Kontan, proyek CAP 2 memiliki estimasi nilai investasi sebesar US$ 5 miliar. Proyek kompleks petrokimia kedua Chandra Asri ini akan menambah kapasitas produksi dari 4,7 juta ton per tahun menjadi 8,9 juta ton per tahun. Proyek ini ditargetkan bisa beroperasi secara komersial pada tahun 2027 mendatang.

“Proyek CAP 2 sempat agak tersendat ketika pandemi pertama kali muncul di Indonesia. Tapi setelah mereda, kami kembali lanjutkan pembangunan proyek ini,” tandas Chakkapong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru