Rupiah diprediksi menguat di akhir tahun, ini faktor pendorongnya

Jumat, 19 November 2021 | 09:50 WIB   Reporter: Bidara Pink
Rupiah diprediksi menguat di akhir tahun, ini faktor pendorongnya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penguatan rupiah diprediksi akan berlangsung hingga akhir tahun 2021. Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan, nilai tukar rupiah pada akhir tahun ini akan berada di kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.300 per dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, rupiah spot ditutup menguat 0,17% ke Rp 14.220 per dolar AS pada Kamis (18/11).

David menjelaskan, pergerakan nilai tukar rupiah yang baik ini erat kaitannya dengan harga komoditas, terutama peningkatan harga crude palm oil (CPO) dan batubara yang akhirnya mendukung ekspor Indonesia.

“Ini mendorong ekspor Indonesia, dan bahkan neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus jumbo akhir-akhir ini,” tutur David kepada Kontan.co.id, Kamis (18/11).

Namun, dia menyoroti terkait investasi asing yang masuk ke pasar keuangan domestik. Pasalnya, dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sudah terlihat ada arus modal asing yang keluar, meski di pasar saham, capital inflow masih terjadi.

Baca Juga: Keputusan BI pertahankan suku bunga acuan akan beri dampak positif untuk rupiah

Namun, David memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah pada akhir tahun 2022. Ia meramal, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 14.500 hingga Rp 14.600 per dolar AS di tahun depan.

Yang perlu diwaspadai oleh Indonesia pada tahun depan adalah ancaman kenaikan suku bunga dari The Fed. Bila The Fed mengerek suku buang, maka ada potensi gejolak di pasar modal.

“Karena selama hampir 3,5 tahun ini suku bunga rendah. Nanti dilihat apakah ada gejolak atau tidak di market global, antara valuasi dan kinerja. Semoga tidak ada gejolak berarti,” ucapnya.

Meski begitu, David yakin BI dan pemerintah sudah memiliki ancang-ancang yang baik untuk menghadapi hal ini. Bahkan, strategi pergerakan suku bunga oleh BI juga diacungi jempol.

Ia pun memperkirakan BI baru akan normalisasi kebijakan moneter pada paruh kedua tahun depan, kemudian diikuti dengan kenaikan suku bunga. Namun, ini juga dengan memperhatikan kondisi perekonomian domestik, termasuk inflasi.

 

Selanjutnya: PPKM Level 3 artinya apa, berlaku di seluruh wilayah Indonesia mulai 24 Desember

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru