Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) Berharap Okupansi Hotel Mencapai 50% Tahun Ini

Sabtu, 23 April 2022 | 08:15 WIB   Reporter: Vina Elvira
Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) Berharap Okupansi Hotel Mencapai 50% Tahun Ini

ILUSTRASI.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten properti, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) berharap, industri perhotelan dapat kembali pulih di tahun ini. Manajemen berharap, tingkat okupansi hotel miliknya dapat mencapai level 50%, atau lebih tinggi dari rata-rata okupansi hotel di tahun 2021 yang hanya berada di level 20,8%. 

Apabila target itu terealisasi, perusahaan memperkirakan dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp 30 miliar di sepanjang 2022 dari sektor perhotelan.

"Untuk okupansi hotel di tahun 2022 kami berharap ada peningkatan dari 20% ke 50%. Tapi tergantung kebijakan pemerintah pusat, terkait dengan boleh tidaknya turis asing terutama dari China dan Australia (datang ke Indonesia)," ungkap Direktur Utama Ristia Bintang Deddy Indrasetiawan, dalam Paparan Publik, hari ini. 

Baca Juga: Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) Targetkan Penjualan Naik 50%-60% Tahun Ini

Dia melanjutkan, telah terjadi sedikit peningkatan okupansi hotel selama kuartal I-2022. Hal ini disebabkan adanya tim sepak bola yang menjadikan Hotel Le Meridien Bali Jimbaran sebagai tempat menginap selama tiga bulan. Meski begitu, Deddy tidak memerinci berapa tepatnya rata-rata okupansi sepanjang Januari-Maret 2022. 

Ketika situasi membaik, dan pariwisata Bali juga mulai menunjukkan pemulihannya, RBMS berencana untuk mengembangkan proyek baru. Future development tersebut berupa Ubud Resort yang terletak di lahan sebesar satu hektar di Gianyar, Bali.

 

 

Namun demikian, RBMS belum bisa buka-bukaan terkait kapan proyek resort tersebut akan dieksekusi. Hal ini tergantung kondisi ekonomi dan juga kebijakan pemerintah terhadap industri pariwisata di Tanah Air, khususnya Bali. 

Pada tahun 2021, penjualan bersih RMBS tercatat sebesar Rp 44,53 miliar. Lebih tinggi 75,97% year on year (yoy) jika dibandingkan tahun sebelumnya yang senilai Rp 25,31 miliar. Dari sisi bottom line, perusahaan ini tercatat membukukan penurunan rugi bersih, dari sebelumnya Rp 45,42 miliar di tahun 2020, menjadi Rp 23,70 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru