Rencana divestasi aset jalan tol dinilai dapat sehatkan keuangan BUMN

Minggu, 25 Juli 2021 | 08:55 WIB   Reporter: Filemon Agung
Rencana divestasi aset jalan tol dinilai dapat sehatkan keuangan BUMN

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana divestasi aset tol sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) konstruksi dinilai bisa membantu perusahaan untuk menyehatkan finansial terutama ditengah tekanan utang yang ada.

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengungkapkan, rencana ini menjadi kabar baik bagi perusahaan BUMN konstruksi. Apalagi, perusahaan BUMN dinilai memiliki utang yang cukup tinggi.

Teguh menjelaskan, pembangunan infrastruktur yang masif dalam beberapa tahun terakhir membuat porsi utang pun meningkat. Terlebih, dalam beberapa kasus perusahaan BUMN yang membangun jalan tol misalnya harus mencari pembelinya sendiri pasca ruas tol selesai dibangun.

"Bangun satu jalan tol bisa triliunan rupiah, jadi kalau mau bangun harus ngutang. Kalau mau lunasi ya harus dijual dulu ruas yang sudah dibangun," kata Teguh kepada Kontan.co.id, Kamis (22/7).

Baca Juga: Berpotensi didivestasi ke INA, PTPP fokus rampungkan proyek tol Semarang-Demak

Teguh melanjutkan, langkah divestasi aset ruas tol ke Indonesia Investment Authority (INA) pun bakal mendorong perusahaan BUMN untuk membangun infrastruktur yang baru jika kendala utang bisa diatasi.

Dalam catatan Kontan, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) misalnya pada kuartal I 2021,total liabilitas tercatat sebesar Rp 88,5 triliun di mana utang jangka pendek sebesar Rp 28,74 triliun.

Sementara itu, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) per kuartal I 2021 mencatatkan total liabilitas senilai Rp 45,06 triliun didominasi utang jangka pendek senilai Rp 35,25 triliun.

Adapun, PT PP Tbk per kuartal I 2021 mencatatkan liabilitas total mencapai Rp 39,67 triliun.

Teguh melanjutkan, langkah investasi INA ke ruas tol ini pun sepertinya tidak akan menyasar pihak swasta. Terlebih para investor belum tentu tertarik.

"Kalau investasi di BUMN yang hubungannya langsung dengan pemerintah kan jaminannya pemerintah itu sendiri, kalau diarahin ke swasta agak susah," pungkas Teguh.

Editor: Handoyo .
Terbaru