Ekonomi

REI pastikan harga rumah ke konsumen akan lebih murah seiring pemberian insentif PPN

Selasa, 27 April 2021 | 11:31 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
REI pastikan harga rumah ke konsumen akan lebih murah seiring pemberian insentif PPN

ILUSTRASI. Perumahan. KONTAN/Baihaki/09/03-2021

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil riset Housing Finance Center (HFC) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menunjukkan peningkatan harga rumah secara nasional sekitar 5,24% secara tahunan (year-on-year/YoY) per Maret 2021. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan permintaan hunian di masa pandemi.

Kendati begitu, Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida memastikan harga rumah yang sampai ke konsumen akan lebih murah, seiring dengan adanya program insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diberikan pemerintah hingga bulan Agustus mendatang.

Totok menegaskan, perlu dilihat kembali sudut pandang dan parameter survei yang dilakukan. Adapun REI menggunakan sudut pandang harga yang sampai kepada end user pada saat melakukan pembelian, yang dipastikan lebih murah saat diberlakukannya insentif PPN.

Baca Juga: Ekosistem properti kembali pulih, pengamat nilai kenaikan harga rumah 5% normal

"Harus dilihat dulu (sudut pandang survei). Sepengetahuan saya harga nggak akan naik, karena kalau kami melihatnya ke end user yang harus bayar, itu turun sampai dengan Agustus, pasti," ungkap Totok kepada Kontan.co.id, Senin (26/4).

Bisa jadi, sambung Totok, survei tersebut melihat adanya kenaikan harga tanah pada setiap meter rumah baru yang dibangun, atau pun saat insentif PPN belum diberlakukan. Kenaikan harga rumah juga dimungkinkan lantaran pada realitas saat ini, harga sejumlah material bahan bangunan seperti besi dan baja ringan sudah naik.

Alhasil, setelah masa insentif PPN selesai, bukan tak mungkin ada penyesuaian harga hunian. "Kecuali kalau sudut pandang (survei) bukan harga rumah ready stock, jadi realisasinya setelah Agustus. Sedangkan harga material naik, berarti tren naik untuk beli rumah baru yang belum dibangun," ungkap Totok.

Yang pasti, Totok mengamini bahwa pendapatan kotor atau omzet pengembang secara umum telah meningkat. Tapi, dia memastikan bahwa para pengembang saat ini tidak dominan memburu profit, namun lebih pada memulihkan sektor properti untuk menggerakkan ekonomi.

Baca Juga: Bank Commonwealth proyeksi bisnis KPR meningkat 15% pada tahun 2021

Segmen kelas menengah, tengah digarap serius lantaran memiliki daya beli yang lebih baik. Hal ini kemudian bisa menggerakkan sektor properti beserta ekosistemnya. "Properti jalan, industri keramik, besi dan lainnya ikut jalan. Buruh jalan, MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) juga jalan. Kami tidak mengarah ke mencari profit dulu, kalau mengambil ego-nya pengembang saja tidak bisa, akan macet. Kami maunya perputaran ekonomi jalan," pungkas Totok.

Dihubungi terpisah, Direktur PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) Olivia Surodjo juga mengamini peningkatan harga secara signifikan belum akan menjadi pilihan para pengembang. Strategi yang akan dipilih lebih kepada meningkatkan volume penjualan, mengingat kondisi sektor properti dan perekonomian belum sepenuhnya pulih.

Namun jika merujuk pada angka kenaikan sekitar 5%, Olivia menilai hal itu masih tergolong normal. "Saya pikir saat ini para developer masih mengandalkan peningkatan volume ketimbang kenaikan harga signifikan. Karena market belum 100% pulih, walaupun sudah mulai membaik dibandingkan tahun lalu," kata Olivia kepada Kontan.co.id, Senin (26/4).

Editor: Handoyo .
Terbaru