RANS Entertainment Dinilai Terlalu Dini untuk IPO

Selasa, 22 Februari 2022 | 08:00 WIB   Reporter: Akmalal Hamdhi
RANS Entertainment Dinilai Terlalu Dini untuk IPO


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, rencana RANS Entertainment untuk segera Initial Public Offering (IPO) terlalu dini. RANS diharapkan dapat membenahi fondasi bisnis terlebih dahulu sebelum lakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Rencana artis papan atas Indonesia Raffi Ahmad membawa RANS untuk segera melantai di Pasar Modal, kembali mencuat di awal tahun ini. RANS memberikan sinyal terkait IPO dengan memberikan suntikan modal senilai US$ 2.500.000 atau Rp 35,75 miliar kepada start up podcast NOICE, anak usaha PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) pada 19 Januari 2022 lalu.

Kendati demikian, Ekonom Indef Nailul Huda menilai di tahun 2022 ini masih terlalu dini bagi RANS untuk menjadi perusahaan terbuka. “RANS semestinya memiliki fondasi yang kuat terlebih dahulu, sehingga tidak hanya andalkan nama besar Raffi Ahmad dan Nagita Slavina,” terang Huda saat dihubungi Kontan, Senin (21/2).

Huda menambahkan, bisnis RANS memang masih banyak menjual nama Raffi ahmad dan Nagita Slavina sekeluarga. Menurut Huda, jika dijalankan tanpa Raffi dan Nagita secara pendanaan RANS belum tentu akan memiliki permodalan yang kuat. Oleh karena itu, Huda menilai keputusan IPO RANS harus dipertimbangkan secara matang karena sejauh ini hanya mengandalkan nama individu.

Baca Juga: Mengintip Gurita Bisnis RANS Entertainment Milik Raffi Ahmad

Terlebih lagi, Huda melanjutkan, keputusan RANS untuk IPO dinilai rawan karena terkait pamor yang dimiliki Raffi dan Nagita. Dikhawatirkan, turunnya nama Raffi dan Nagita sebagai selebriti dapat membuat melemahnya kinerja saham perseroan.

Menurut Huda, setidaknya tiga tahun lagi adalah waktu yang tepat bagi RANS untuk bergabung pada pasar modal Indonesia. “Terlalu dini. Setidaknya tiga tahun ke depan baru bisa membangun fondasi RANS yang kuat tanpa embel-embel keluarga Raffi Ahmad. Tahun ini memang akan ada hype tapi terlalu beresiko karena tidak akan sustain harga sahamnya,” ungkap Huda.

Adapun, Huda menyarankan kepada suatu perusahaan yang ingin lakukan IPO harus memperhatikan sisi suistainibility atau keberlanjutan seperti keuntungan, pendapatan, serta beban perusahaan yang harus terjaga. Dengan demikian, perusahaan akan menarik dimata investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru