Produsen Mi Instan Menghadapi Tantangan Mahalnya Harga Gandum Global

Jumat, 02 September 2022 | 08:00 WIB   Reporter: Dimas Andi
Produsen Mi Instan Menghadapi Tantangan Mahalnya Harga Gandum Global


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen mi instan kini tengah menghadapi tantangan berupa mahalnya harga gandum global. Akibatnya, tren kenaikan harga jual mi instan tak terhindarkan.

Dalam berita sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa harga mi kering instan telah melonjak 10,58% pada Agustus 2022 bila dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

KONTAN juga memperoleh data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) bahwa harga mi instan pada Agustus 2022 berada di level Rp 2.916 per bungkus. Padahal, pada Agustus 2021 lalu harga mi instan masih berada di level Rp 2.692 per bungkus.

Baca Juga: Siantar Top (STTP) Akui Terdampak Kenaikan Harga Gandum

Data ini berdasarkan pantauan kontributor atau dinas yang membidangi perdagangan dari 216 pasar rakyat di 90 kabupaten/kota Indonesia. Adapun produk mi instan yang menjadi sampel data tersebut adalah Indomie rasa Kari Ayam.

Sementara itu, berdasarkan pantauan KONTAN di gerai Indomaret Kemang, Jakarta Selatan, sebagian besar produk Indomie dibanderol dengan harga Rp 3.000 per bungkus. Misalnya, Indomie Soto, Indomie Kari Ayam, Indomie Ayam Bawang, dan Indomie Goreng. Perbedaan harga terdapat pada Indomie Goreng Ayam Geprek dan Indomie Mie Goreng Aceh yakni sebesar Rp 3.100 per bungkus.

Merek mi instan lain juga demikian. Contohnya, Mie Sedaap Kari Ayam dan Mie Sedaap Selection Korean Spicy Soup yang dijual seharga Rp 3.000 per bungkus. Sedangkan, Mie Sedaap Selection Korean Spicy Chicken dan Mie Sedaap Goreng Ayam Krispi dibanderol sebesar Rp 3.100 per bungkus.

Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membenarkan bahwa harga Indomie yang dijual di berbagai jenis pasar telah mengalami kenaikan pada tahun 2022. Hal ini sejalan dengan tren kenaikan harga bahan baku mi instan, yakni gandum dan tepung terigu.

“Setahu saya harga Indomie sudah dua kali naik, yakni di bulan Maret dan akhir bulan Juni lalu. Besarannya saya kurang tahu,” kata dia, Kamis (1/9).

Menurutnya, harga Indomie yang ada di pasar sudah mencerminkan realita kondisi industri mi instan saat ini. Para pelaku industri mi instan pun saling bersaing dalam menjajakan produknya di pasar. Seiring dengan adanya persaingan harga mi instan tersebut, maka pilihan terakhir ada di tangan konsumen.

“Konsumen silakan memilih mau beli merek mi instan mana yang mereka sukai dengan harga yang mereka anggap terjangkau,” terang dia.

Baca Juga: Laba Indofood (INDF) dan ICBP Kepleset Harga Gandum

Lebih lanjut, Franciscus menilai bahwa harga gandum yang menjadi bahan baku pembuatan mi instan sebenarnya sudah mulai melandai akhir-akhir ini bila dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Bila penurunan tersebut berlanjut, maka akan menjadi katalis positif bagi produsen mi instan.

Mengutip data tradingeconomics.com, harga gandum global pada Kamis (1/9) pukul 17.00 WIB terpantau bergerak di level US$ 8,04 per bushel atau turun 0,52% dibandingkan hari sebelumnya. Namun, secara bulanan atau month to month (MoM), harga gandum naik 3,77%. Begitu pula bila dihitung secara tahunan atau year on year (YoY), yang mana harga gandum tumbuh 14,20%.

Hanya saja, harga gandum memang tidak setinggi di periode Maret hingga Juni 2022 lalu. Kala itu, harga gandum sempat bergerak di kisaran US$ 10 per bushel. Bahkan, pada 17 Mei lalu harga gandum pernah menyentuh level US$ 12,75 per bushel.

Sekadar catatan, anak usaha INDF yang membidangi bisnis mi instan yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) cukup terdampak oleh kenaikan harga berbagai komoditas, tak terkecuali gandum. Ini terbukti dari turunnya laba usaha emiten tersebut sebesar 8% (YoY) menjadi Rp 5,88 triliun pada semester I-2022.

Manajemen ICBP menyebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ICBP turun sekitar 40% (YoY) menjadi Rp 1,93 triliun di semester I-2022. Hasil ini akibat rugi kurs yang belum terealisasi yang timbul dari kegiatan pendanaan. Dengan tidak memperhitungkan non-recurring item dan selisih kurs, core profit ICBP turun 23% (YoY) menjadi Rp 3,03 triliun.

Untungnya, penjualan neto ICBP masih tumbuh 16% (yoy) menjadi Rp 32,59 triliun pada enam bulan pertama tahun ini.

“Kami akan terus fokus pada upaya untuk mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan profitabilitas,” imbuh Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (31/8) kemarin.

Baca Juga: Menperin Beberkan Dampak Tantangan Global Bagi Industri Nasional

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Lopis menganggap, kenaikan harga jual mi instan yang terjadi tahun ini tak lepas dari lonjakan harga tepung terigu selaku turunan gandum yang menjadi bahan baku mi instan. Bahkan, harga tepung terigu sudah naik cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Agustus 2017 harga tepung terigu nasional masih Rp 9.047 per kilogram, sedangkan pada Agustus 2022 harganya sudah mencapai Rp 12.318 per kilogram,” ungkap dia.

Aptindo pun menyebut kebutuhan tepung terigu secara nasional pada Januari-Juni 2022 sebanyak 3,34 juta metrik ton, atau setara gandum 4,3 juta metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru