Pertamina Geothermal Energy (PGE) direncanakan IPO semester I 2022

Jumat, 14 Januari 2022 | 07:00 WIB   Reporter: Muhammad Julian
Pertamina Geothermal Energy (PGE) direncanakan IPO semester I 2022

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) direncanakan melantai di pasar modal pada paruh pertama tahun ini. Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury mengungkapkan, pendaftaran PGE untuk initial public offering (IPO) rencananya dilangsungkan pada Maret 2022 ini, sehingga IPO diperkirakan bisa direalisasi pada bulan Juni 2022 mendatang.

“Momentumnya menurut kami tepat. Orang sekarang lagi ngomongin dekarbonisasi semua, apalagi setelah COP 26 kemarin itu boleh dibilang hampir semuanya bicara mengenai energi baru terbarukan,” ujar Pahala dalam acara diskusi bersama media di Gedung Kementerian BUMN, Rabu malam (12/1).

Rencananya, PGE akan melepas 20%-30% dalam hajatan IPO kelak. Pahala tidak merinci berapa target dana yang ingin dihimpun melalui aksi IPO tersebut. Namun, Pahala menyebutkan bahwa pihaknya tengah memiliki kebutuhan dana sekitar US$ 400 juta - US$ 500 juta untuk beragam agenda pengembangan panas bumi.

Pahala bilang, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat (AS). Namun demikian, persentase yang baru dimanfaatkan dari potensi panas bumi di dalam negeri baru mencapai sekitar 9%.

Baca Juga: PGE dan Medco Power Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

Paparan yang disampaikan Pahala sejalan dengan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam keterangan tertulisnya yang terbit September 2021 lalu, Kementerian ESDM menyebutkan bahwa pemanfaatan panas bumi sebagai pembangkit listrik baru mencapai sebesar 2.175,7 Megawatt (MW) atau 9,2% dari total potensi sumber daya di Indonesia.

Menurut Pahala, energi panas bumi memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan bila dibandingkan dengan jenis EBT lainnya. Berbeda dengan EBT lain seperti angin dan surya yang bersifat intermitten, pasokan energi dari panas bumi bersifat kontinyu sehingga bisa dijadikan sebagai baseload.

Selain itu, biaya produksi energi panas bumi yang berkisar US$ 7,5 sen - US$ 8 sen per kWh juga dinilai masih cukup murah. 

“Kalau kita mau membandingkan ya harus membandingkan yang sama dong, yang sama-sama enggak memiliki intermittency. Baterai ditambah solar (surya) paling ya mungkin sekarang paling murah US$ 12 sen. US$ 6 sen untuk produksi solarnya sendiri, US$ 6 sen lagi untuk baterainya,” terang Pahala menggambarkan.

Adapun beberapa agenda pengembangan panas bumi yang meliputi sejumlah hal, mulai dari optimalisasi PLTP, peningkatan kapasitas pembangkit di area wilayah kerja eksisting, eksplorasi sumber panas bumi baru, hingga pengembangan produk hijau seperti hidrogen hijau dan amonia hijau.

Baca Juga: Antrean Calon Emiten di Tahun Macan

Pahala mengaku belum bisa memastikan, apakah IPO PGE nanti juga akan mengundang investor strategis. Yang terang, kalaupun opsi tersebut dilakukan, PGE akan memilih investor strategis yang memang memiliki kapabilitas dalam pengembangan geothermal.

Sedikit informasi, PGE saat ini mengelola 14 Wilayah Kerja Panas Bumi. Di dalam wilayah kerja tersebut telah terbangkitkan listrik panas bumi sebesar 1877 MW, yang terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri oleh PGE dan 1205 MW dikelola melalui Kontrak Operasi Bersama.

Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sebesar sekitar 88% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,5 juta ton CO2 per tahun

Selanjutnya: Prediksi IHSG Jumat (14/1) Rawan Melemah, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Untuk Trading

Editor: Handoyo .
Terbaru