Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia diperkirakan semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencananya untuk menyerang Iran secara lebih agresif.
Mengutip Trading Economics, harga minyak mentah WTI berada di level US$ 111,54 per barel pada Kamis (2/4/2026), naik 18,06% dalam sepekan. Secara year to date (ytd), harga minyak mentah WTI tercatat telah melambung 94,25%.
Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX mengatakan, pergerakan harga minyak mentah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump. Trump menyatakan bahwa AS akan terus menyerang Iran secara agresif dalam beberapa minggu mendatang, termasuk target energi dan minyak, tanpa menetapkan jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang.
“Komentar Trump tersebut memudarkan harapan akan berakhirnya perang Iran dalam waktu dekat,” ujar Yoga kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Di sisi lain, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mewanti-wanti bahwa gangguan pasokan minyak dan gas yang parah akibat konflik di Timur Tengah dapat berdampak signifikan pada Eropa mulai April. Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan inflasi.
IEA pun mempertimbangkan untuk melepas lebih banyak cadangan minyak strategis. Namun demikian, Birol menilai bahwa pelepasan cadangan tambahan tidak akan serta-merta mengakhiri masalah di pasar energi global.
Baca Juga: Selamat Paskah 2026, Kirimkan Ucapan & Twibbon Paskah Berikut
Tekanan pasokan energi juga muncul setelah Rusia mengumumkan pemberlakuan larangan ekspor bensin bagi produsen bahan bakar hingga akhir Juli. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga pasokan pasar domestik, namun berpotensi memperketat pasokan energi di pasar global.
Sementara itu, laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan sebesar 5,5 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Maret. Angka tersebut jauh melebihi ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan stok hanya sebesar 814.000 barel.
Laporan EIA tersebut mengindikasikan permintaan yang cenderung lesu di pasar minyak AS.
Analis Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai, harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan signifikan karena meningkatnya intensitas perang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Ia menyebut Iran menembak jatuh pesawat jet tempur dan drone milik AS-Israel. Selain itu, Iran juga dikabarkan tengah mempersiapkan 1 juta pasukan garda revolusi dan 1 juta pasukan kombatan atau milisi.
Dengan demikian, Iran diperkirakan menyiapkan sekitar 2 juta pasukan untuk mengantisipasi potensi serangan darat AS-Israel.
Ibrahim juga menyampaikan bahwa kapal milik AS disebut berhasil ditembak Iran. Selain itu, pasukan yang menuju Iran dikabarkan diserang milisi Syiah di Irak. Kondisi tersebut dinilai membuat pasukan AS tertahan di perbatasan Irak.
Tonton: Kendalikan Selat Hormuz: Senjata Iran Lebih Dahsyat dari Nuklir
Serangkaian situasi itu disebut memicu kemarahan Donald Trump. Bahkan Trump disebut mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Pernyataan tersebut kemudian direspons Iran dengan menegaskan bahwa peradaban Persia telah ada jauh sebelum berdirinya negara AS.
“Iran siap melakukan serangan balik. Kemungkinan besar minggu depan terjadi perang darat. Ini yang membuat harga minyak, emas, logam mulia, kemungkinan akan menguat dan rupiah mengalami pelemahan,” jelas Ibrahim, Minggu (5/4/2026).
Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah WTI pada kuartal II-2026 berada di kisaran US$ 97 per barel hingga US$ 130 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













