Penyebab Surplus Neraca Dagang pada Januari 2022 Diprediksi Turun

Selasa, 15 Februari 2022 | 06:50 WIB   Reporter: Bidara Pink
Penyebab Surplus Neraca Dagang pada Januari 2022 Diprediksi Turun


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Neraca perdagangan diperkirakan masih akan mencetak surplus pada awal tahun ini. Namun, surplusnya ditaksir berkurang signifikan. 

Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, keuntungan neraca perdagangan pada bulan Januari 2022 sebesar US$ 0,19 miliar atau menurun dari surplus Desember 2021 yang sebesar US$ 1,02 miliar. 

Penurunan surplus neraca perdagangan ini, menurut hitungan David didorong oleh penurunan baik dari sisi ekspor maupun impor secara bulanan. 

Dirinya memperkirakan, ekspor pada bulan Januari 2022 sebesar US$ 20,20 miliar. Ini turun 9,74% mtm dari bulan Desember 2021 yang sebesar US$ 22,38 miliar. 

Baca Juga: Surplus Neraca Perdagangan Diperkirakan Susut Hingga 70%

“Penurunan ekspor ini didorong oleh adanya larangan ekspor batubara yang sempat ditetapkan oleh pemerintah pada Januari 2022,” tutur David kepada Kontan.co.id, Senin (14/2). 

Akan tetapi, bila dibandingkan dengan Januari 2020 yang pada waktu itu tercatat US$ 15,29 miliar, ekspor pada bulan Januari 2022 masih meningkat 32,1% yoy. 

Dari sisi impor, David memperkirakan impor pada awal tahun ini sebesar US$ 20,01 miliar. Ini turun 6,32% mtm. 

Namun, David melihat dari komponennya, ada peningkatan impor bahan baku termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) seiring dengan peningkatan mobilitas pada bulan Januari 2022. 

Pun bila dibandingkan dengan Januari 2020 yang pada waktu itu tercatat US$ 21,36 miliar, nilai impor pada awal tahun ini masih meningkat 50,1% yoy. 

Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri Memperkirakan Surplus Neraca Perdagangan Menyusut di Awal 2022

Ke depan, David memperkirakan neraca perdagangan masih akan mencetak surplus, setidaknya dalam jangka pendek hingga jangka menengah. 

Kinerja impor diperkirakan akan melambat di bulan Februari seiring dengan pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang menahan kepercayaan masyarakat. 

Sedangkan dari sisi ekspor, diperkirakan masih relatif tinggi sebagai buah dari tingginya harga energi dan produk perkebunan akibat tensi tinggi di Ukraina. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru