Penyebab realisasi penerbitan SBN ritel meningkat tahun lalu

Senin, 11 Januari 2021 | 06:30 WIB   Reporter: Danielisa Putriadita
Penyebab realisasi penerbitan SBN ritel meningkat tahun lalu

KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Realisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel meningkat 53% di sepanjang tahun 2020 jika dibandingkan realisasi penerbitan di tahun sebelumnya. Risiko investasi yang lebih minim dan tawaran imbal hasil yang kompetitif menjadi faktor yang membuat SBN ritel ini makin populer dipilih masyarakat.

Tercatat, di sepanjang tahun 2020 pemerintah berhasil menerbitkan SBN ritel sebesar Rp 76,81 triliun. Jumlah tersebut termasuk penerbitan Sukuk Wakaf Ritel. Angka ini jauh lebih besar dari penerbitan SBN ritel di tahun 2019 yang totalnya Rp 49,89 triliun. Dengan kata lain, realisasi penerbitan SBN ritel sepanjang tahun lalu meningkat sekitar 53%.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, realisasi SBN ritel di sepanjang 2020 meningkat karena pemerintah berhasil melakukan edukasi dan sosialisasi di 2019 dengan meluncurkan 4 seri lebih banyak dari 6 seri di 2020.

Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan di masa pandemi beberapa masyarakat justru jadi memiliki dana menganggur yang berlebih karena moblitas dan konsumsi masyarakat cenderung  lebih terbatas.

Baca Juga: Kinerja lelang pada tahun 2020 menembus Rp 26,1 triliun

"Pengeluaran atau belanja yang dilakukan masyarakat pada umumnya menjadi berkurang," kata Deni.

Disamping dana yang memang sudah dialokasikan untuk investasi, masyarakat juga memiliki sejumlah uang yang menganggur. Hingga akhirnya masyarakat memilih investasi yang aman dan menempatkan dana menganggur di SBN ritel.

Selain aman, Deni melihat minat investor ke SBN ritel meningkat karena tertarik pada minimal investasi yang terjangkau. Tingkat imbal hasil yang ditawarkan SBN ritel juga dipandang menarik.

Misalnya, pergerakan imbal hasil (yield) SBN ritel yang bisa diperdagangkan seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) di pasar sekunder selalu sejalan dengan pergerakan tingkat bunga.

"Yield semua seri SBN ritel khususnya ORI mengalami penurunan yang signifikan dibanidngkan dengan yield di awal tahun," kata Deni.

Baca Juga: Kemenkeu catat kinerja lelang pada tahun 2020 tembus Rp 26,1 triliun

Dengan begitu, dalam menentukan kupon SBN ritel, pemerintah selalu mempertimbangkan nilai yang setara dengan "sweetener" atawa imbal hasil yang lebih tinggi yang cukup masuk akal agar kupon SBN ritel selau lebih menarik.

Senada, Analis Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan SBN ritel seperti ORI menjadi instrumen investasi yang aman di tengah gejolak pasar akibat pandemi. Roby juga melihat masyarakat jadi cenderung banyak menabung daripada belanja.

Jika dilihat dari imbal hasil, misal untuk ORI018 saja, sejak terbit di Oktober 2020 harga sudah naik sekitar 2% di akhir tahun 2020. Sementara, ORI017 yang terbit di Juli harga naik sekitar 4%. "Kenaikan harga tersebut sejalan dengan tren kenaikan harga SUN sejak pandemi," kata Roby.

Selanjutnya: Tahun 2021, kinerja bisnis wealth management perbankan diproyeksi tumbuh positif

 

Editor: Noverius Laoli
Terbaru