kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Penyebab pemulihan ekonomi Indonesia pada 2022 diproyeksi lambat


Jumat, 21 Mei 2021 / 05:25 WIB
Penyebab pemulihan ekonomi Indonesia pada 2022 diproyeksi lambat

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi dpada 2022 berkisar 5,2% hingga 5,8% year on year (yoy).

Kendati demikian, Kepala Ekonom Indo Premier Sekuritas, Luthfi Ridho, mengatakan, risiko pemulihan ekonomi yang lebih lambat dari perkiraan masih cukup besar.  

Apalagi kalau melihat bahaya potensi kasus Covid-19 seperti di India. Oleh karenanya, Luthfi memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 3,7%  sampai 5,4% yoy pada 2021, dan 2,1% sampai 4,4% yoy pada 2022. 

“Persaingan antara China dan Amerika Serikat (AS) masih menjadi sentimen negatif, meski recovery ekonomi di kedua negara bisa menjadi katalis ekonomi global termasuk Indonesia,” kata Luthfi kepada Kontan.co.id, Kamis (20/5).

Baca Juga: Sri Mulyani targetkan defisit APBN 2022 minus 4,85% dari PDB

Adapun Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 akan mendongkrak ekonomi di tahun depan dengan fokus pada pemulihan ekonomi dan reformasi struktural.

Dari sisi belanja, upaya penguatan spending better dilakukan melalui pengendalian belanja agar lebih efisien, lebih produktif, dan menghasilkan multiplier effect yang kuat terhadap perekonomian serta efektif untuk meningkatkan kesejahteraan.  

Sri Mulyani menekankan pemanfaatan anggaran harus lebih difokuskan untuk mendukung program prioritas, mendorong efisiensi kebutuhan dasar, dan menjaga agar pelaksanaan anggaran berbasis hasil (results-based). 

Untuk itu, alokasi belanja negara tahun depan diperkirakan mencapai 14,69% hingga 15,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara penerimaan negara berkisar 10,18% hingga 10,44% terhadap PDB. Lalu, keseimbangan primer tahun depan antara minus 2,31% sampai minus 2,65% dari PDB. 

Baca Juga: Sri Mulyani prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan capai 5,2%-5,8%



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×