Nasional

Penerimaan bea keluar moncer terdorong kenaikan harga sejumlah komoditas

Kamis, 24 Desember 2020 | 08:36 WIB   Reporter: Yusuf Imam Santoso
Penerimaan bea keluar moncer terdorong kenaikan harga sejumlah komoditas


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komoditas andalan Indonesia seperti tembaga, crude palm oil (CPO) atau minyak sawit, dan batubara belakangan mengalami kenaikan harga. Dus, komoditas yang banyak diekspor itu menyokong penerimaan negara dari sisi bea keluar. 

Berdasarkan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, hingga akhir November realisasi bea keluar sebesar Rp 3,3 triliun. Angka tersebut tumbuh 3,87% year on year (yoy) dibandingkan realisasi sama tahun lalu sebesar Rp 3,18 triliun.

Bahkan, kinerja penerimaan bea keluar tersebut sudah melebihi target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 1,65 triliun sebagaimana Perpres 72/2020. Beleid tersebut menginisiasi penurunan seluruh komponen penerimaan negara akibat dampak pandemi virus corona.

Baca Juga: Meskipun ada corona, penerimaan pajak bumi dan bangunan sudah lewati target

Padahal, jika merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor bulan November 2020 tumbuh negatif 4,22% yoy atau masih tertekan dampak pelemahan demand global. Namun demikian, jika dibandingkan bulan Oktober tumbuh positif 6,36% month to month (mtm).

Lebih lanjut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan harga tembaga, CPO, dan batubara di pasar global menjadi salah satu faktor pendorong naiknya devisa ekspor Indonesia. Alhasil setoran bea keluar naik biarpun ekspor melandai.

Batubara misalnya, kenaikan harga dipengaruhi peningkatan konsumsi di Eropa menyusul datangnya musim dingin. Sementara, ekspor besi dan baja dasar, bijih tembaga ke China turut meningkatkan harga tembaga.

Sementara, naiknya harga CPO di pasar global yang dipengaruhi produksi CPO Malaysia bulan November yang anjlok dan harga soybean oil yang naik juga turut menjadi faktor naiknya devisa ekspor. 

Baca Juga: Ekonomi kuartal IV-2020 diyakini bakal membaik, berikut indikatornya

“Kenaikan Harga CPO global didukung produksi CPO Malaysia bulan November yang anjlok dan harga soybean oil yang naik,” jelas Sri Mulyani sebagaimana dikutip kontan.co.id dalam laporan APBN 2020 Periode November, Rabu (23/12). 

Selanjutnya: Menkeu harap APIP dapat menjawab tantangan pengawasan keuangan negara

 

Editor: Tendi Mahadi


Terbaru