kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Pemerintah Targetkan Produksi Bioetanol Capai 1,2 Juta Kiloliter pada Tahun 2030


Jumat, 14 Juli 2023 / 09:40 WIB

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - TANGERANG SELATAN. Pemerintah Indonesia menargetkan produksi bioetanol hingga 1,2 juta kiloliter (KL) di 2030 untuk semakin mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) di dalam negeri. Produksi ini meningkat pesat bila dibandingkan saat ini yang baru mencapai 10.000 KL setahun. 

Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury menjelaskan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No 40 Tahun 2023 mengenai Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. 

Kebijakan tersebut dibuat untuk meningkatkan penggunaan bioethanol sebagai pengganti bahan bakar fosil di dalam negeri. Pahala mengatakan, salah satu pertimbangan utama dikembangkannya bioetanol karena melihat potensi tebu yang melimpah di Indonesia.

“Indonesia baru memiliki 1.800 hektar lahan tebu saja, kita berharap lahan ini bisa dikembangkan untuk ditanam tebu sebagai sumber bioetanol bisa meningkat menjadi 700.000 hektar dan bisa menghasilkan 35 juta ton tebu,” jelasnya dalam acara EBTK ConEx di ICE BSD, Kamis (13/7). 

Baca Juga: RON Lebih Tinggi dari Pertamax, Ini Informasi Soal Pertamax Green RON 95

Melalui penambahan produksi tebu tersebut, pemerintah di dalam beleid Perpres 40/2023, menargetkan produksi bioetanol sebagai biofuel yang bisa dikembangkan hingga 1,2 juta kiloliter di 2030. 

Produk bioetanol ini coba dikomersialisasikan melalui PT Pertamina dengan merilis produk Green Pertamax (RON 95) dengan kandungan bioetanol 5% (E5). 

Pahala berharap, dikembangkannya bioetanol bisa menjadi opsi bagi masyarakat mengganti bahan bakar minyak (BBM) fosil ke energi yang lebih bersih. 

Di sisi lain, Pemerintah ingin Indonesia tidak hanya dikategorikan sebagai negara yang berhasil menurunkan emisi melalui biodiesel (B35), tetapi juga diharapkan gasoline mulai menggunakan bioenergi sebagai komitmen bersama. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

×