kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

Pemerintah Gaspol Bangun Kereta di Luar Jawa, Target 14.000 Km Rel hingga 2045


Selasa, 28 April 2026 / 03:48 WIB
Pemerintah Gaspol Bangun Kereta di Luar Jawa, Target 14.000 Km Rel hingga 2045
ILUSTRASI. Pembangunan Jalur Ganda Rel Kereta Api Bogor-Sukabumi (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Reporter: Hervin Jumar | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa sebagai strategi menekan biaya logistik sekaligus mengurangi ketimpangan antarwilayah.

Langkah ini menjadi bagian dari agenda prioritas nasional untuk memperluas konektivitas, meningkatkan efisiensi distribusi barang, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah di luar Jawa.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pengembangan jaringan rel di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi (SKS) merupakan mandat langsung Presiden Prabowo Subianto dalam kerangka Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).

Pemerintah ingin memastikan wilayah luar Jawa tidak tertinggal, sekaligus membangun sistem transportasi yang lebih terintegrasi antar pusat-pusat ekonomi.

Menurut AHY, pembangunan rel yang terhubung antarkawasan ekonomi dapat memangkas ongkos logistik secara signifikan. Ia menekankan bahwa proyek kereta api bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih merata.

Namun AHY juga mengakui, kondisi perkeretaapian nasional saat ini masih tertinggal. Kontribusi kereta api terhadap mobilitas nasional masih rendah, dengan porsi angkutan penumpang hanya sekitar 4% dan logistik sekitar 1%.

Padahal, moda transportasi ini dikenal lebih efisien serta ramah lingkungan, dengan kontribusi emisi gas rumah kaca kurang dari 1%.

Baca Juga: Naik DAMRI ke Baduy Cuma Rp 1 Pakai QRIS, Catat Jadwalnya

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan jaringan rel hingga sekitar 14.000 kilometer pada 2045. Target ambisius ini membutuhkan pendanaan besar yang diperkirakan mencapai Rp 1.100 triliun hingga Rp 1.200 triliun.

AHY menegaskan, pembiayaan tidak bisa hanya mengandalkan APBN. Pemerintah akan mendorong skema pembiayaan kreatif serta kolaborasi dengan sektor swasta dan berbagai pihak.

Pengembangan rel di tiap wilayah pun akan disesuaikan dengan kebutuhan. Di Sumatra, pemerintah akan memperkuat jaringan yang sudah ada. Sementara di Kalimantan pembangunan dilakukan dari nol. Sedangkan di Sulawesi, pengembangan diarahkan untuk integrasi dengan kawasan industri.

Seluruh proyek juga harus selaras dengan tata ruang serta pusat-pusat ekonomi agar manfaatnya maksimal.

Di sisi operator, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan ekspansi ke luar Jawa mulai berjalan pada 2026.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pengembangan ini diarahkan untuk mendukung distribusi komoditas unggulan seperti sawit, karet, hingga nikel. Selain itu, percepatan pembangunan jalur di Sulawesi juga menjadi fokus karena wilayah tersebut dinilai masih tertinggal dalam infrastruktur transportasi rel.

Meski demikian, rencana besar tersebut mendapat catatan dari pengamat transportasi Djoko Setijowarno. Ia menilai target pembangunan 14.000 kilometer rel baru akan sulit tercapai apabila pembiayaan masih terlalu bergantung pada negara.

Tonton: Rp 1 Triliun Digelontorkan! Daerah Berprestasi Dapat Hadiah Besar

Sebagai alternatif, ia mendorong pemerintah memprioritaskan reaktivasi jalur lama peninggalan kolonial yang dinilai lebih realistis dan efisien.

Menurut Djoko, optimalisasi jalur eksisting dapat menjadi solusi cepat untuk menjawab kebutuhan transportasi yang terus meningkat, sekaligus membuka potensi ekonomi baru di daerah.

Ia mencontohkan, reaktivasi jalur lama bukan hanya meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memperkuat distribusi logistik, serta membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis kawasan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

×