Paling lambat awal tahun depan, FID proyek smelter Bahodopi INCO rampung

Selasa, 30 November 2021 | 09:35 WIB   Reporter: Muhammad Julian
Paling lambat awal tahun depan, FID proyek smelter Bahodopi INCO rampung


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan proyek pabrik pengolahan alias smelter nikel di Bahodopi dan Pomala, Sulawesi, masih bergulir.

Direktur Keuangan INCO, Bernardus Irmanto mengatakan, pihaknya menargetkan keputusan investasi final alias final investment decision (FID) untuk proyek Fasilitas Pengolahan Nikel Bahodopi bisa rampung pada rentang waktu Desember 2021 - Januari 2022. “Progres untuk (proyek smelter) Bahodopi masih sesuai dengan harapan semua shareholders,” ujar Bernardus kepada Kontan.co.id, Senin (29/11).

Sebelumnya, INCO telah menandatangani dokumen Perjanjian Kerangka Kerjasama Proyek untuk Fasilitas Pengolahan Nikel Bahodopi dengan dua mitra, yaitu Taiyuan Iron & Steel (Grup) Co., Ltd (TISCO) dan Shandong Xinhai Technology Co., Ltd (Xinhai) pada Juni 2021 lalu.

Baca Juga: Punya fundamental solid, begini prospek komoditas tambang logam ke depan

Menurut perjanjian ini, ketiganya sepakat untuk membentuk perusahaan patungan (JV Co) untuk membangun fasilitas pengolahan nikel di Xinhai Industrial Park, Morowali, Sulawesi Tengah. Dalam perusahaan patungan itu, INCO akan memiliki 49% saham, sedang sebanyak 51% saham  JV Co sisanya bakal dimiliki oleh mitra INCO. 

Nantinya, JV Co ini akan n membangun delapan lini pengolahan feronikel rotary kiln-electric furnace dengan perkiraan produksi sebesar 73.000 metrik ton nikel per tahun beserta fasilitas pendukungnya. Bernardus bilang, saat ini pihaknya tengah mengurusi aspek teknis, perizinan, dan juga pembiayaan untuk proyek Fasilitas Pengolahan Nikel Bahodopi. 

Sementara itu, untuk proyek Smelter Pomalaa, INCO masih melakukan diskusi dengan pihak mitra, yakni  Sumitomo Metal Mining  (SMM) perihal aspek teknis, perizinan, dan lain-lain. “Untuk Pomalaa, ada beberapa hal yang masih kami diskusikan dengan partner (Sumitomo) terkait isu komersial, teknis dan perizinan,” tutur Bernardus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru