NPL Perbankan Diramal Bisa Makin Landai Berkat Perpanjangan Restrukturisasi Kredit

Senin, 05 Desember 2022 | 06:45 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
NPL Perbankan Diramal Bisa Makin Landai Berkat Perpanjangan Restrukturisasi Kredit


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perpanjangan restrukturisasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa menekan pemburukan kualitas kredit. Seiringan proyeksi kenaikan kredit kian meningkat di 2023 dan kian melandainya non performing loan (NPL) perbankan. 

Data OJK mencatatkan NPL perbankan mencapai 2,78% di September 2022. Nilai ini terus menurun 3,00% pada Desember 2021. Seiring dengan kian menyusutnya restrukturisasi kredit dari Rp 663,49 triliun menjadi Rp 519,64 triliun di kuartal ketiga 2023. 

OJK memperpanjang relaksasi restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 hingga Maret 2024. Ini berlaku untuk sektor UMKM secara menyeluruh. Lalu, industri padat karya khusus untuk tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri alas kaki. 

Kemudian sektor akomodasi, usaha makanan dan minuman. Lanjutan restrukturisasi juga akan berlaku bagi pelaku usaha di provinsi Bali. Sedangkan, kebijakan restrukturisasi Covid-19 secara menyeluruh akan berakhir pada Maret 2023.

Baca Juga: Penuhi Modal Inti, Bank Banten akan Bentuk Kelompok Usaha Bank

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin menyatakan portofolio restrukturisasi kredit tinggal Rp 45,6 triliun per September 2022. Menyusut dari posisi puncaknya pada Juni 2021 sebesar Rp 96,5 triliun. 

Rinciannya, restrukturisasi dari segmen korporasi mencapai Rp 16,3 triliun, komersial 8,5 triliun, UKM sebesar Rp 6,2 triliun. Lalu, mikro sebesar Rp 6,2 triliun dan konsumer Rp 8,4 triliun. 

“Hasil pemetaan, 64% dari portofolio restrukturisasi tidak eligible untuk diperpanjang. Tidak akan jadi concern besar karena 82% telah mulai melakukan pembayaran kewajibannya,” ujar Siddik kepada KONTAN pada pekan lalu. 

Lanjut ia,  Bank Mandiri telah mengalokasikan pencadangan yang sangat memadai untuk portfolio Restrukturisasi Covid-19. Siddik bilang secara keseluruhan pencadangan sekitar 21,8% sedangkan pencadangan untuk kategori high risk mencapai 60,3%.   

Ia memproyeksikan, tren perbaikan ini akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid. NPL Bank Mandiri turun dari 3,1% di September 2021 menjadi 2,3% di September 2022. Bank Mandiri akan menjaga NPL di level 2,2% hingga 2,4%. 

BNI mencatat outstanding restrukturisasi Covid-19 sebesar Rp 59,5 triliun per September. Turun dari posisi September 2021 sebesar Rp 78,8 triliun.  

Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada mengatakan, dari pemetaan yang dilakukan, hanya 5% dari debitur restrukturisasi covid  yang masuk kategori high risk.  Lalu sebesar 60% debitur high risk tersebut berada pada sektor-sektor yang diperpanjang stimulusnya oleh regulator.  Artinya, potensi kenaikan NPL BNI tahun depan akan lebih tertahan.  

“Untuk pencadangan, kami sudah melakukan build up pencadangan yang cukup sesuai dengan profil risiko dari debitur kami. Untuk debitur restrukturisasi Covid-19 yang masuk kategori high risk sudah kami provisioning dengan rata-rata CKPN rasio 30%,” jelas David kepada KONTAN. 

Ia memprediksi akhir tahun 2022 hingga 2023, BNI akan tetap menjaga NPL Coverage Ratio di atas 270%. Seiring dengan itu, BNI akan mempertahankan LAR Coverage Ratio di atas 40%.

Baca Juga: OJK Perpanjang Restrukturisasi Kredit, Begini Efeknya Ke Emiten Perbankan

Adapun BRI sudah mengalokasikan pencadangan bagi portofolio restrukturisasi yang tidak diperpanjang hingga 2024. Hal ini digunakan untuk mengantisipasi pemburukan aset.  Direktur Manajemen Risiko Agus Sudiarto mengatakan, LAR restrukturisasi Covid-19 BRI mencapai 7,7%. 

Adapun pencadangan untuk restrukturisasi Covid-19 saja mencapai Rp 29,95 triliun atau 25,7% terhadap LAR. Sedangkan dari pemetaan yang sudah dilakukan BRI selama ini, hanya 10% dari total restrukturisasi Covid-19 yang benar-benar tidak dapat diselamatkan. 

Sehingga bank ini melihat pencadangan 25,7% sudah sangat cukup mengantisipasi risiko ke depan tanpa memperhitungkan perpanjangan secara targeted tadi. 

Adapun NPL BRI per September 2022 tercatat berada di level 3,14%. Itu turun dari 3,29% pada September tahun lalu. BRI telah mengalokasikan pencadangan terhadap NPL sebesar 275,88%, naik dari 259,7% pada September 2021.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru