CLOSE [X]

Novavax kembangkan vaksin untuk menangkal varian Omicron

Jumat, 03 Desember 2021 | 05:35 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Novavax kembangkan vaksin untuk menangkal varian Omicron


KONTAN.CO.ID - AMERIKA. Farmasi global bersiap untuk mengembangkan vaksin baru demi menangkis virus varian Omicron. Novavax Inc, misalnya, saat ini tengah menguji vaksin dan memproduksi vaksin dalam beberapa minggu ke depan. 

Dilansir dari Reuters, Kamis (2/12), pengembangan vaksin itu mengandung lapisan protein dari virus sebenarnya, namun tidak dapat menyebabkan penyakit namun memperkuat sistem kekebalan. 

Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat (AS) ini mengatakan, telah mengembangkan vaksin tersebut di tengah lonjakan virus tersebut. "Pekerjaan awal akan memakan waktu beberapa minggu," kata juru bicara perusahaan.

Awal bulan ini, Vaksin Novavax mendapat menerima persetujuan untuk digunakan secara darurat di Indonesia dan Filipina. Perusahaan juga sedang dalam proses untuk mengajukan persetujuan AS pada akhir tahun ini. Selain itu, perusahaan juga mengajukan persetujuan ke Badan Obat Eropa serta di Kanada.

Baca Juga: Sekjen PBB: Pembatasan perjalanan internasional tidak adil dan tidak efektif

Pengembang vaksin lain, termasuk BioNTech SE dan Johnson & Johnson dari Jerman, mengatakan juga sedang menguji efektivitas vaksin mereka terhadap varian baru, yang diberi nama Omicron oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Inovio Pharmaceuticals Inc mengatakan telah mulai menguji kandidat vaksinnya, INO-4800, untuk mengevaluasi efektivitasnya terhadap varian baru. Perusahaan memperkirakan pengujian akan memakan waktu sekitar dua minggu.

Inovio juga mengatakan sedang merancang kandidat vaksin baru yang secara khusus menargetkan Omicron."Skenario kasus terbaik, INO-4800 akan sepenuhnya tahan terhadap omicron, tetapi jika bukan itu masalahnya, maka kami akan memiliki vaksin yang dirancang baru yang siap digunakan jika perlu," kata Kate Broderick, wakil presiden senior R&D Inovio divisi.

Awal bulan ini, Inovio melanjutkan uji coba tahap akhir vaksinnya di Amerika Serikat setelah 14 bulan ditahan secara klinis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru