Multifinance Akan Lebih Selektif Menyalurkan Pembiayaan Elektronik

Kamis, 22 September 2022 | 06:45 WIB   Reporter: Selvi Mayasari
Multifinance Akan Lebih Selektif Menyalurkan Pembiayaan Elektronik


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dengan adanya berbagai tantangan global seperti kenaikan inflasi dan BBM sepertinya turut berdampak kepada pembiayaan elektronik rumah tangga yang berdampak kepada daya beli masyarakat. Hal tersebut terlihat dari permintaan masyarakat terhadap produk elektronik maupun gadget yang menurun.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan penyaluran pembiayaan pada produk elektronik menurun secara bulanan sebesar 2,8% menjadi Rp3,82 triliun pada bulan Juli 2022 dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp 3,93 triliun kendati masih alami kenaikan 7,6% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,55 triliun.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan menyampaikan, prospek pembiayaan produk elektronik bisa terpengaruh oleh kondisi ekonomi. Hal ini karena kebanyakan nasabah pembiayaan produk elektronik adalah masyarakat menengah ke bawah.

"Kalau dilihat volumenya dari pembiayaan barang-barang elektronik memang besar, tapi transaksinya tidak besar, hanya Rp 3 juta - Rp 4 juta. Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan pun jauh lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan untuk barang-barang elektronik. Persentase persetujuan pembiayaannya pun hanya 7%-10% dari total pengajuan," jelas Bambang belum lama ini.

Baca Juga: Pembiayaan Mobil Listrik CIMB Niaga Capai Rp 34 Miliar hingga Agustus 2022

Di sisi lain, Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) masih tetap optimis prospek pembiayaan produk elektronik masih akan cerah, meskipun ada banyak tantangan.

"Tapi, dengan kondisi ekonomi masyarakat yang menantang, perusahaan pembiayaan nampaknya akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan untuk barang-barang konsumsi seperti produk elektronik. Ini dilakukan untuk meminimalisir risiko kenaikan rasio pembiayaan macet atau non performing financing (NPF)," kata Suwandi.

Sementara itu, beberapa pemain nampaknya belum merasakan dampak yang signifikan dari berbagai tantangan ekonomi. Misalnya saja Akulaku Finance yang hingga Agustus kemarin masih membukukan total pembiayaan elektronik sekitar Rp 9 triliun atau meningkat sekitar 25% secara tahunan. 

"Elektronik salah satu yang mendorong kinerja perusahaan, selalu daripada gadget dengan porsi pembiayaan sekitar 25% dari seluruh total pembiayaan perusahaan," kata Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia Efrinal Sinaga.

Tren ke depan, pihaknya masih optimis untuk bisa merealisasikan target pembiayaan hingga akhir tahun mencapai Rp 12 triliun.

"Kami juga akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan elektronik karena dampak kenaikan BBM dan Bahan pokok, sedikit banyak kemungkinan akan berpengaruh terhadap daya beli dan daya angsur konsumen," terang Efrinal.

Dalam menggenjot pembiayaan elektronik, pihaknya terus memperluas kerjasama online dengan sejumlah market place dan juga secara off line dengan toko-toko elektronik. Selain itu, dengan membuat program-program yang tematik dan seasonal.

President Director Astra Multifinance (AMF) Ardian Prasetya juga mengaku, tren pembiayaan di tahun ini masih positif hingga saat ini.

Baca Juga: Sah! Astra Financial Caplok 49,56% Saham Bank Jasa Jakarta

"Dampak inflasi, dan kenaikan BBM memungkinkan akan dirasakan setelah ini tapi hingga saat ini belum langsung berdampak, dan pertumbuhan pembiayaan elektronik secara tahunan masih tumbuh di atas 20%," kata Ardian.

Kendati demikian, menurut Ardian pertumbuhan pembiayaan elektronik belum bisa menopang secara keseluruhan terhadap bisnis FIFGroup. Porsi pembiayaan elektronik masih sekitar 10% dari total pembiayaan di FIFGroup yang memiliki produk pembiayaan yang cukup beragam.

Ardian juga bilang, tren pembiayaan ke depan masih positif karena kebutuhan masyarakat untuk peralatan elektronik, gadget masih bertumbuh, walaupun kemungkinan di kuartal terakhir tahun ini agak sedikit melambat dengan masyarakat lebih mementingkan kebutuhan yang mendasar, karena adanya kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan banyak produk lainnya.

"Strategi perusahaan untuk saat ini tetap selektif memilih konsumen yang beresiko rendah, kami juga menambah varian produk pembiayaan, dan memperluas channel distribusi dan menjaga service ke konsumen dengan fokus pada kemudahan dan kecepatan proses dalam meningkatkan kepuasan customer," ujar Ardian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru