kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menteri ESDM: Pertamina Bayar Saham Divestasi Shell di Blok Masela Mulai Akhir Juni


Sabtu, 17 Juni 2023 / 06:35 WIB
Menteri ESDM: Pertamina Bayar Saham Divestasi Shell di Blok Masela Mulai Akhir Juni

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memastikan PT Pertamina mulai membayar 35% hak partisipasi atau participating interest (PI) Shell di Blok Masela pada Juni 2023. 

Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, saat ini nilai 35% saham Shell sudah ada angkanya dan masuk dalam target yang diharapkan oleh Pertamina. Namun, Arifin tidak bisa merinci nilai transaksinya karena berurusan dengan proses business to business (B to B). 

“Tunggu akan diselesaikan akhir Juni ini, itu separuhnya dulu (dibayar) sebagai tanda jadi, tanda serius. Ini sudah kesepakatannya begitu,” jelasnya di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (16/6). 

Baca Juga: Butuh Deal Investasi

Setelah proses ambil alih 35% saham Shell rampung, Pertamina bisa langsung bertemu dengan Inpex untuk melanjutkan proses selanjutnya dalam pengembangan Blok Masela. 

Arifin menegaskan transkasi ini harus benar selesai pada akhir Juni karena pemerintah tidak ingin divestasi Shell kembali molor.

“Lu beli, serius, selesaikan ini dulu. Kita tidak mau mundur lagi,” tegas Arifin. 

Arifin menjelaskan, pihaknya tidak ingin proses divestasi ini mundur karena akan berdampak pada produksi gas yang meleset. Menteri ESDM menegaskan, jika tidak ada kepastian pemerintah akan mengambil posisi.  

Menteri memastikan produksi gas hasil Blok Masela sudah ada pembelinya di mana 60% akan diprioritaskan ke dalam negeri. Kementerian ESDM melihat kebutuhan gas dalam era transisi energi akan semakin besar ke depannya. 

Baca Juga: Negosiasi Pengalihan Hak Partisipasi Shell di Masela Sudah Ada Titik Temu

Adapun perihal revisi POD dengan memasukkan teknologi CCS/CCUS, Arifin tidak menampik bahwa harga gas yang akan dijual dari Blok Masela akan lebih mahal. 

“Reevisi POD ini kan terkait dengan program carbon capture, nah untuk harga ini ada tambahan cost investment. Tapi juga yang dihasilkan nanti kan gas bersih, ada nilainya dong gas bersih sama yang tidak ada carbon capture, itu harus diseimbangkan,” terangnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×