Menlu AS bertemu perwakilan Dalai Lama di India yang bisa picu kemarahan China

Kamis, 29 Juli 2021 | 06:50 WIB Sumber: Reuters
Menlu AS bertemu perwakilan Dalai Lama di India yang bisa picu kemarahan China

KONTAN.CO.ID -  NEW DELHI. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken bertemu dengan perwakilan pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, di New Delhi pada Rabu (28/7), kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS. Pertemuan bisa menyulut kemarahan China yang menganggap Dalai Lama sebagai separatis yang berbahaya.

"Blinken bertemu sebentar dengan Ngodup Dongchung, yang menjabat sebagai perwakilan Administrasi Tibet Pusat (CTA), juga dikenal sebagai pemerintah Tibet di pengasingan", kata juru bicara itu seperti dilansir Reuters.

Pasukan China merebut Tibet pada 1950 dalam apa yang disebut Beijing sebagai pembebasan damai. Pada tahun 1959, Dalai Lama melarikan diri ke pengasingan di India menyusul pemberontakan yang gagal melawan pemerintahan China.

CTA dan kelompok advokasi Tibet telah menerima dukungan internasional dalam beberapa bulan terakhir di tengah meningkatnya kritik terhadap catatan hak asasi manusia China, terutama dari Amerika Serikat.

Baca Juga: Xi Jinping kunjungi Tibet untuk pertama kalinya sebagai Presiden

Pada bulan November, Lobsang Sangay, mantan kepala pemerintah Tibet di pengasingan, mengunjungi Gedung Putih, kunjungan pertama dalam enam dekade.

Sebulan kemudian, Kongres AS mengesahkan Undang-Undang Kebijakan dan Dukungan Tibet, yang menyerukan hak rakyat Tibet untuk memilih penerus Dalai Lama, dan pendirian konsulat AS di ibu kota Tibet, Lhasa.

Pertemuan Blinken dengan Dongchung adalah kontak paling signifikan dengan para pemimpin Tibet sejak Dalai Lama bertemu dengan presiden saat itu Barack Obama di Washington pada 2016.

Kementerian luar negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar. Beijing mengatakan Tibet adalah bagian dari China dan telah melabeli Dalai Lama sebagai separatis yang berbahaya.

Selanjutnya: Perkuat hubungan untuk lawan China, Menteri Pertahanan AS ke Asia Tenggara

 

Editor: Noverius Laoli
Terbaru