Mengintip strategi dompet digital di tahun 2022

Selasa, 14 Desember 2021 | 06:05 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Mengintip strategi dompet digital di tahun 2022


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis fintech pembayaran atau kerap kali disebut juga dengan dompet digital memang masih menjadi bisnis yang menggiurkan. Masuknya beberapa pemain baru pun membuat beberapa pemain menyiapkan strategi untuk tetap mempertahankan pangsa pasarnya atau justru memperluas.

Sebut saja, PT Visionet Internasional atau kerap dikenal dengan OVO yang tahun depan tak hanya akan fokus mengembangkan  layanan pembayaran digital, namun juga akan melebarkan sayap ke layanan finansial seperti asuransi, investasi dan pinjaman.

Memang, layanan investasi yang dimiliki yaitu OVO Invest cukup menarik minat pengguna. Hal tersebut terbukti dari lebih dari 550 juta pengguna yang terdaftar dalam lima bulan pertama sejak diluncurkan awal tahun ini.

Baca Juga: Indomaret dan OVO berkoaborasi perkuat kapabilitas pengisian saldo offline

“Diharapkan layanan finansial OVO Invest dan OVO Proteksi akan terus berkembang dengan menghadirkan produk-produk baru guna semakin melengkapi kebutuhan keuangan pengguna,” ujar Head of Corporate Communication OVO, Harumi Supit kepada Kontan.co.id, Senin (13/12).

Tak hanya itu, Harumi juga mengatakan bahwa saat ini pihaknya juga akan semakin memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis terutama di sektor perbankan.

Terbaru, mereka melakukan kolaborasi dengan BRI dengan meluncurkan kartu kredit OVO U card mulai dari tahap aplikasi pengajuan kartu kredit hingga proses pengelolaan dilakukan secara digital melalui aplikasi OVO.

OVO juga telah berkolaborasi dengan BCA dalam menghadirkan layanan tarik tunai OVO Cash. Saat ini, sudah ada lebih dari 17 ribu ATM BCA di Indonesia yang bisa melakukan layanan tersebut.

Selain OVO, ada juga Link Aja yang mengaku masih optimistis masih bisa menjadi pilihan masyarakat, dengan menghadirkan ekosistem yang lengkap serta manfaat pembayarannya di berbagai ekosistemnya. Bukan tanpa alasan, hal tersebut dikarenakan mereka masih mencatat pertumbuhan pengguna aktif 4% hingga 6% di tiap kuartal.

“Kami juga melihat pertumbuhan jumlah transaksi di beberapa use case seperti misalnya online payment,” ujar Wibawa Praestyawan, Direktur Marketing LinkAja.

Wibawa pun juga bilang bahwa pihaknya juga berkolaborasi dengan sektor-sektor yang relevan sesuai dengan pergerakan perilaku konsumen serta adopsi terhadap penggunaan uang elektronik.

Baca Juga: LinkAja, PGRI dan Paybill berkolaborasi wujudkan digitalisasi sektor pendidikan

Oleh karenanya, LinkAja memandang banyaknya pemain baru justru mendorong penetrasi layanan keuangan elektronik akan semakin tinggi.

Sementara itu, pemain lainnya yaitu ShopeePay memiliki strategi untuk membangun ekosistem pembayaran digital dengan menyasar pelaku bisnis UMKM.

Hal ini dikarenakan tingginya penetrasi layanan pembayaran digital ShopeePay di sektor UMKM sepanjang tahun 2021 yang meningkat hingga 5 kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.

“Kami telah menjalankan berbagai program dan kampanye untuk mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia, menambah lebih banyak use cases penting untuk pengguna kami, dan akan terus melakukan berbagai inisiatif dan inovasi untuk masyarakat dan pemilik bisnis kurang memiliki akses ke layanan digital,” ujar Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay, Eka Nilam Dari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru