Ekonomi

Mayoritas capex Lotte Chemical Titan (FPNI) akan dipakai untuk beli mesin penunjang

Jumat, 11 Juni 2021 | 22:45 WIB   Reporter: Arfyana Citra Rahayu
Mayoritas capex Lotte Chemical Titan (FPNI) akan dipakai untuk beli mesin penunjang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) menyiapkan belanja modal US$ 5 juta untuk sejumlah keperluan. Manajemen FPNI memaparkan, belanja modal ini dominan dialokasikan untuk perawatan pabrik. 

"Alokasi capex kebanyakan untuk maintanance pabrik. Pabrik kami yang bernama PT Lotte Chemical Titan Nusantara (LCTN) memulai konstruksi pada 1991 sehingga sudah 30 tahun beroperasi. Ada beberapa pipa yang sudah korosi dan perlu diganti. Namun, ada beberapa alat atau sparepart yang sudah tidak lagi dijual sehingga kami harus ganti dengan yang terbaru," kata Direktur Lotte Chemical Titan, Jojok Hadrijanto dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (11/6). 

Maka dari itu, di tahun ini, Jojok mengatakan capex yang sudah dianggarkan akan lebih banyak digunakan untuk membeli sejumlah mesin penunjang. Jojok bilang, mesin penunjang ini relatif kecil dan harganya tidak begitu mahal dibandingkan mesin utama. 

Baca Juga: Penjualan Selamat Sempurna (SMSM) naik 20,93% pada kuartal I 2021

Sedikit informasi saja, Jojok bilang membeli mesin atau alat di petrokimia membutuhkan waktu yang lama. Dia memberikan gambaran, jika beli mesin sekarang bisa jadi baru 10 bulan kemudian baru datang. 

Melansir laporan tahunan FPNI yang dirilis pada (3/6) , PT Lotte Chemical Titan Nusantara (LCTN) adalah anak usaha  yang bergerak di bidang industri kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Lokasi pabrik LCTN  di Merak, Cilegon, Banten. Pabrik ini menjalankan sistem produksi INEOS Innovene dan proses Fluidized Bed, dengan kapasitas terpasang 450.000 MT per tahun. 

LCTN mampu memproduksi PE yaitu Polietilena Berdensitas Tinggi (HDPE) dan Polietilena Berdensitas Rendah (LLDPE) sehingga menjadi produsen PE yang menjual sebagian besar dari hasil produksinya di pasar lokal.

Selanjutnya: Laba bersih Temas (TMAS) turun 48% di tahun 2020

 

Editor: Tendi Mahadi
Terbaru