LPS Proyeksikan Kredit Perbankan Tumbuh 5,1%-8,9% Pada Tahun 2022

Sabtu, 29 Januari 2022 | 06:40 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
LPS Proyeksikan Kredit Perbankan Tumbuh 5,1%-8,9% Pada Tahun 2022


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) optimistis perekonomian Indonesia bisa lebih baik di tahun ini dibandingkan tahun lalu. Sehingga, kinerja perbankan akan lebih optimal pada tahun ini. 

“Prediksi pertumbuhan kredit perbankan di 5,1% hingga 8,9% di tahun 2022. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) perbankan 8,5% sampai 9,4%,” ujar Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa secara virtual pada Jumat (28/1). 

Proyeksi ini tak terlepas dari melanjutnya perbaikan fungsi intermediasi industri perbankan di sepanjang 2021 yang sudah tumbuh 5,2% year on year. 

Namun ia melihat kecepatan pertumbuhan kredit akan terhalangi oleh kondisi global, sehingga mengurangi momentum untuk tumbuh dobel digit.

“DPK juga akan tumbuh lebih lambat, karena uangnya masih akan masuk ke sistem. Sehingga sebagian uangnya akan digunakan untuk mengerakkan perekonomian. Jadi, kami perkirakan perekonomian tahun ini lebih baik dari tahun lalu,” jelasnya. 

Baca Juga: Tancap Gas, Laba Bank Mandiri 2021 Melesat 66,8%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan, DPK perbankan mencapai Rp 7.480 triliun pada Desember 2021. Nilai itu meningkat hingga 12,21% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6.665 triliun. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, pertumbuhan itu sejalan dengan peningkatan kredit sebesar 5,24% year on year (yoy) selama 2021. Setelah tahun sebelumnya, sempat terkontraksi -2,41% yoy. 

"Risiko kredit juga terkendali terlihat dari rasio non performing loan (NPL) pada level 3% dan cenderung turun dari tahun lalu sebesar 3,06%," kata Wimboh.

Di masa pandemi, kredit terdampak Covid-19 yang direstrukturisasi juga terus melandai sejalan dengan perbaikan ekonomi nasional. Per Desember 2021, kredit restrukturisasi Covid-19 turun menjadi Rp 663,49 triliun terhadap 4 juta debitur. 

"Dari jumlah tersebut, telah dibentuk pencadangan sebesar 16% atau senilai Rp 106,2 triliun," terang Wimboh. 

Wimboh memperkirakan capaian positif di sektor jasa keuangan tersebut membawa optimisme bahwa outlook sektor jasa keuangan di tahun ini akan jauh lebih baik yang menjadi modalitas dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru