Lahan Gambut di Asia Tenggara Diperkirakan Seluas 24 Juta Hektare

Senin, 09 Mei 2022 | 07:15 WIB   Reporter: Arfyana Citra Rahayu
Lahan Gambut di Asia Tenggara Diperkirakan Seluas 24 Juta Hektare


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia mengajak Negara-negara serumpun di Asia Tenggara bekerja sama erat dalam pengelolaan gambut berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan ekologi di kawasan tersebut maupun secara global.

Duta Besar Indonesia untuk  Republik Korea Gandi Sulistyanto mengatakan, gambut tropis di Asia Tenggara memberi banyak manfaat untuk kawasan ini mulai dari menyediakan hasil hutan kayu dan non kayu, cadangan air dan pengendali banjir, hingga manfaat lainnya.

“Gambut di Asia Tenggara juga menyimpan cadangan karbon yang besar dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati,” kata Gandi dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (8/5).

Baca Juga: Pengembangan Jenis Tanaman Bioenergi Mendukung Penyediaan Energi Terbarukan

Lahan gambut di Asia Tenggara diperkirakan seluas 24 juta hektare. Selain di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam, gambut di Asia Tenggara juga tersebar di area yang kecil di Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos dan Filipina.

Dubes Gandi mengatakan, pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk pengelolaan ekosistem gambut misalnya dengan membangun sistem pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Ada juga promosi pemanfaatan lahan gambut berkelanjutan yang siap ditingkatkan skala implementasinya di tingkat nasional maupun regional.

Dubes Gandi mengatakan meski tidak mudah, namun pemerintah, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove serta masyarakat dan pelaku usaha terus berupaya keras untuk memastikan gambut bisa dikelola secara berkelanjutan.

Salah satu inisiatif yang dilakukan pelaku usaha dalam pengelolaan gambut berkelanjutan di Indonesia adalah Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Head of Operations RER Brad Sanders mengungkapkan RER yang didanai oleh April Group berkomitmen untuk merestorasi gambut seluas 150.693 hektare di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang, Riau.

“Pada bentang alam dimana RER berlokasi, areal hutan tanaman dikelola secara berkelanjutan untuk melindungi gambut yang direstorasi. Produksi hutan tanaman berkelanjutan juga akan menyediakan pendanaan untuk kegiatan restorasi dalam jangka panjang,” kata Sanders.

Aksi restorasi yang sudah dilakukan di antaranya dengan menutup kanal lama sepanjang 146 kilometer. Selain itu juga dilakukan patroli perlindungan yang melibatkan masyarakat setempat.

Sanders menekankan pentingnya aksi perlindungan agar gambut tidak terganggu, sehingga cepat menuju pemulihan.

Komitmen Indonesia untuk melakukan pengelolaan gambut berkelanjutan juga mendapat dukungan dari dunia Internasional. Misalnya, Republik Korea melalui Korea Indonesia Forest Cooperation Center (KIFC) mendukung pemulihan Hutan Lindung Londerang di Jambi.

Project Managers KIFC Kim Hyoung Gyun mengungkapkan, pemulihan dilakukan dengan re-wetting, replanating, dan revitalisasi gambut dengan melibatkan masyarakat setempat.

Chief Technical Adviser FAO mengatakan, pihaknya juga memberikan dukungan perangkat pemantauan dan peningkatan kapasitas dalam pemantauan gambut di Indonesia.

Kepala Divisi Lingkungan Sekretariat ASEAN Vong Sok mengatakan kerja sama pengelolaan gambut oleh Negara-negara ASEAN terus menguat.

Dia menuturkan, di bidang pencegahan kebakaran hutan dan lahan telah ada kesepakatan untuk pencegahan asap lintas batas (AATHP).  Selain itu juga telah ada dokumen strategi pengelolaan gambut berkelanjutan yang bisa menjadi panduan bagi Negara-negara ASEAN.

Vong Sok menuturkan, proyek implementasi pengelolaan gambut berkelanjutan kini sedang diujicobakan di Negara-negara di Delta Mekong yaitu Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Baca Juga: Pengamat: Food Estate Perlu Perhatikan 4 Pilar Pengembangan Pertanian Skala Luas

Pada kesempatan diskusi tersebut, Director General CIFOR (Center for International Forestry Research) Robert Nasi juga mengungkapkan kunci keberhasilan restorasi gambut.

Menurut dia, meski teknologi, dukungan politik, dan pembiayaan berperan namun yang terpenting dalam restorasi gambut adalah kesadaran pentingnya gambut dan pelibatan masyarakat.

“Pada masyarakat yang memiliki pemahaman pentingnya gambut maka gambut akan lebih terlindungi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru