Kunjungan pertama sebagai Presiden China, ini kegiatan Xi Jinping saaat di Tibet

Sabtu, 24 Juli 2021 | 15:05 WIB Sumber: Channel News Asia
Kunjungan pertama sebagai Presiden China, ini kegiatan Xi Jinping saaat di Tibet

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Presiden China Xi Jinping mengunjungi wilayah otonomi Tibet pada Rabu (21 Juli) dan Kamis (22 Juli), menurut kantor berita Xinhua, dalam kunjungan pertamanya yang tercatat sebagai pemimpin negara.

Itu adalah kunjungan pertama oleh pemimpin tertinggi China ke Tibet dalam lebih dari tiga dekade. Presiden China terakhir yang berkunjung ke Tibet adalah Jiang Zemin pada 1990.

Dalam rekaman yang dirilis pada Jumat (23 Juli) oleh stasiun televisi pemerintah CCTV, Xi terlihat menyapa kerumunan yang mengenakan kostum etnis dan mengibarkan bendera China ketika dia meninggalkan pesawatnya, dalam sambutan karpet merah saat para penari tampil di sekelilingnya.

Meskipun Xi tiba pada Rabu di Bandara Nyingchi di Tenggara Tibet, tidak disebutkan kunjungannya di media resmi sampai dua hari kemudian.

Baca Juga: Xi Jinping angkat bicara soal banjir hebat yang melanda China

Setelah "sambutan hangat oleh kader dan massa dari semua kelompok etnis", Xi pergi ke Jembatan Sungai Nyang untuk belajar tentang perlindungan ekologi dan lingkungan dari Sungai Yarlung Tsangpo dan Sungai Nyang, CCTV melaporkan, seperti dikutip Channel News Asia.

Kegiatan Xi Jinping di Tibet

Xi juga mengunjungi Museum Perencanaan Kota Nyingchi dan daerah lain untuk melihat perencanaan pembangunan kota, revitalisasi pedesaan, dan pembangunan taman kota.

Pada Kamis, ia menuju ke Stasiun Kereta Api Nyingchi untuk belajar tentang perencanaan Kereta Api Sichuan-Tibet sebelum naik kereta ke Lhasa.

Di Lhasa, Xi mengunjungi sebuah biara dan Alun-alun Istana Potala, dan "memeriksa agama etnis" juga perlindungan warisan budaya Tibet, laporan Xinhua menyebutkan, seperti dilansir Channel News Asia.

Istana tersebut adalah rumah tradisional pemimpin spiritual Buddha Tibet, Dalai Lama, yang berada di pengasingan dan telah dicap sebagai separatis berbahaya oleh Beijing.

Baca Juga: Erdogan ke Xi: Penting bagi Turki bahwa Muslim Uighur hidup dalam damai

Editor: S.S. Kurniawan
Terbaru