KSP Angkat Bicara Soal Penurunan Tingkat Kepuasan Kinerja Jokowi

Rabu, 18 Mei 2022 | 05:00 WIB   Reporter: Ratih Waseso
KSP Angkat Bicara Soal Penurunan Tingkat Kepuasan Kinerja Jokowi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) - Wakil Presiden Ma'ruf Amin merosot hingga 6%, menurut hasil hasil survei lembaga survei Indikator Politik.

Penurunan tersebut terjadi selang sebulan dari survei terakhir yang menyebut tingkat kepuasan masih mencapai 64,1%. Penurunan tersebut bersumber dari isu kenaikan harga bahan-bahan pokok.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono mengatakan, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tidak terlepas dari dampak ketidakpastian global, baik yang dipicu pandemi Covid-19, konflik Rusia-Ukraina, berbagai kebijakan di negara maju, maupun faktor cuaca.

Akibatnya harga berbagai komoditas di pasar global naik, termasuk bahan pangan dan energi yang kemudian memicu kenaikan harga di dalam negeri di banyak negara.

"Jika kondisi ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, serta memberi tekanan fiskal. Mengingat APBN banyak digunakan untuk menyediakan dukungan bantalan sosial bagi masyarakat, khususnya kelompok tidak mampu" terang Edy dalam keterangan tertulis, Selasa (17/5).

Baca Juga: Kepuasan Publik ke Jokowi Menurun, Terendah dalam 6 Tahun Terakhir

Menurut Edy, di tengah berbagai risiko global yang muncul, perekonomian Indonesia mampu melanjutkan tren perbaikan yang konsisten. Ia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan I 2022. Di mana perekonomian Indonesia tumbuh kuat sebesar 5,01% (yoy).

Pertumbuhan perekonomian tersebut, kata Edy, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, tetap terjaganya kinerja ekspor, dan bergairahnya aktivitas ekonomi seputar lebaran.

"Perputaran ekonomi pada Idul Fitri juga ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan di Triwulan I," katanya.

Edy juga mencatat, meski terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, namun dari sisi demand, konsumsi rumah tangga justru tumbuh, yakni sebesar 4,34% (yoy), atau jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada triwulan IV 2021 sebesar 3,55% (yoy) .

Kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dinilai didukung oleh kebijakan pelonggaran mobilitas, seiring dengan pandemi yang terkendali dan berlanjutnya akselerasi vaksinasi.

"Dan yang harus dicatat, juga karena percepatan penyaluran perlindungan sosial untuk memberikan dorongan bagi penguatan daya beli masyarakat," ujar Edy.

Namun, penguatan konsumsi rumah tangga di sisi lain juga turut berkontribusi pada meningkatnya inflasi pada April 2022, sebesar 0,95% (mom) atau 3,47% (yoy).

Adapun tingginya inflasi tersebut juga bertepatan dengan momen Ramadhan 2022, dimana secara siklus memang terjadi peningkatan permintaan.

Edy optimistis prospek perekonomian Indonesia ke depan tetap kuat, karena pemerintah terus melakukan akselerasi dan perluasan vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang semakin luas. Serta memberikan berbagai stimulus berupa bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat.

Baca Juga: Survei Indikator Politik: 72,8% Masyarakat Sebut Minyak Goreng Masih Mahal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru