Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk produsen serat dan benang filamen, turut merasakan dampak konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga bahan baku polyester.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta mengatakan, bahan baku utama polyester ikut terdampak karena material tersebut berasal dari produk petrokimia atau turunan minyak bumi dan gas.
“Dampak langsung terjadi pada harga paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) sebagai bahan baku utama polyester yang saat ini sudah naik sekitar 15%,” kata Redma kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).
Menurut Redma, industri tekstil di bagian hulu sebenarnya masih mampu memaksimalkan produksi dalam negeri. Kebutuhan yang masih harus dipenuhi lewat impor terutama adalah kapas, serta sebagian kecil PX dan MEG.
Namun, apabila ketidakpastian geopolitik terus berlanjut, ia menilai pasokan bahan baku impor berpotensi mengalami hambatan. Kondisi tersebut pada akhirnya perlu diantisipasi dengan memperbesar pasokan dari dalam negeri.
Baca Juga: Proyeksi Penghematan BBM dari WFH Sehari: Potensi Besar, Dampak Riil Kecil
Sementara itu, di sektor antara atau bagian tengah dalam rantai produksi tekstil, para pelaku usaha juga dinilai mampu menggenjot produksi lokal untuk menekan ketergantungan pada impor, terutama ketika harga bahan baku global sedang mengalami kenaikan.
Sayangnya, produsen domestik disebut masih enggan meningkatkan produksi karena mengambil sikap waspada terhadap kondisi pasar.
“Produsen lokal masih belum percaya dengan kondisi saat ini, apalagi tanpa ada kepastian dan keberpihakan dari pemerintah ke depan terhadap produksi dalam negeri,” curahnya.
Redma menegaskan, secara kapasitas dan kualitas, industri tekstil dalam negeri sebenarnya sangat mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, untuk merealisasikan hal tersebut, ia menilai pemerintah perlu memberikan jaminan agar keberlanjutan pasar tekstil nasional lebih terjaga.
Tonton: Prabowo Tiba di Jepang, Lanjut ke Korea Selatan! Indonesia Siap Borong Jet Tempur KF-21
Di tengah ketidakpastian global, produsen hulu tekstil yang masih beroperasi saat ini terus berupaya menjaga tingkat utilisasi pabrik di atas 70% demi mempertahankan nilai keekonomian usaha.
“Meskipun, tingkat utilisasi secara nasionalnya masih sekitar 45%,” imbuh dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












